AYAH PELAKU PENGANIAYAAN ANAK DI KABUPATEN BUTON, DITAHAN POLISI

Spread the love

SIRAIT: “PELAKU BAKAL TERKENA PASAL BERLAPIS-LAPIS”

JAKARTA, IdentitasPrime – Rachman La Saleh (27) warga Desa Saraaya, Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggarah selaku ayah penganiaya anak yang direkamnya dalam video dan diviralkannya melalui media online terancam pasal berlapis-lapis.
Perbuatan tak manusiawi dari ayah bejad ini menjadi sangat heboh dan membuat gusar banyak kalangan di seantero Nusantara dan ia terancam pidana penjara15 tahun.

“Sesuai ketentuan UU RI Nomor 35 Tahun 2014 mengenai perubahan UU RI Nomor 23Tahun 2002, dan pelaku adalah ayah kandung korban, maka pelaku rentan dengan ancaman hukuman 15 tahun dan dapat ditambah sepertiga dari pidana pokoknya,” tutur Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait di Semarang (kemarin 06/09/18) via nomor WA-nya yang dihubungi www.identitasprime.com
Piketahui pembaca, dalam video berdurasi 2 menit 33 detik yang di upload Rachman, ia berkali-kali menganiaya bocah malang 2.5 tahun yang tak lain adalah putera kandungnya sendiri dengan cara mencekik leher dan memukul kepala anaknya.

Tidak sampai disitu saja, didepan kamera Rachman berulang-ulang memukul kepala dan membekap mulut anaknya sambil mengacungkan dan menempelkan pisau ke leher anaknya.

“Menangis kau.. menangis…panggil mamakmu atau kau mati, itu lihat mamakmu sudah pergi dengan laki-laki lain, sambil memukul dan mencekik leher anaknya sampai si balita malang itu tidak bisa bernafas dan mengeluarkan ingus itu,” ujar Sirait meniru ucapan dan aksi ayah bejad itu.

Menurut Arist, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Rachman saat ini sudah ditangkap dan mendekam di tahanan Polsek Kalisusu, Buton Utara sementara istrinya TD (26) masih dimintai keterangan oleh penyidik Polisi Sektor Kaliusu.
Atas kerja keras Polres Kalisusu menangkap Rachman, Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai lembaga independen yang bertugas memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja cepat dan responsif aparat penyidik Polri di Polsek Kalisusu.
“Untuk membuat efek jera dan membangun kesadaran masyarakat bahwa penganiayaan yang dilakukan Rachman terhadap anaknya merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang tidak dapat ditoletansi dan yang dapat diancam hukuman 20 tahun penjara,” tukas Sirait.
Dengan demikian juga, lanjut Sirait, Komnas Anak sebutan lain dari Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) mendesak agar pemerintah bersama masyarakat khususnya masyarakat Buton segera mencanangkan Gerakan Perlindungan Anak Sekampung di seluruh wilayah hukum Buton Utara.
“Agar masing-masing kampung bersepakat menjadi benteng melindungi dan mengusir predator anak dan menjadikan rumah sebagai lini atau garda terdepaan memberikan perlindungan bagi anak,” imbau Arist.

Ditambahkan Sirait, di negara kita masih sering sekali Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) membawa mala petaka bagi anak.
“Oleh sebab itu hentikan Kekerasan terhadap anak sekarang juga, bila ada kejadian seperti itu, silahkan hubungi saya lewat media ini, pasti kami tuntaskan sesuai hukum 6ang berlaku,” pungkas Arist Merdeka Sirait.(Red)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*