Diduga Aniaya Saksi, “Komandan Uti” Dilaporkan ke Propam Polda Sulut

Spread the love
Cali terduga pelapor korban penganiayaan

Keluarga Korban Anggap Pengakuan Terlapor ke Kapolsek, Bohong

Kapolsek Likupang Pastikan Tidak Bela Anggota yang Salah

MINUT, IdentitasPrime – Kasus dugaan penyalahgunaan kewenangan sebagai anggota polisi sebagai pengayom masyarakat, terkuak di wilayah hukum Polres Minahasa Utara, khususnya Polsek Likupang.

Hal ini terungkap ketika Maria Taramen aktivis lingkungan hidup, memposting foto seorang pemuda asal Desa Kahuku Kecamatan Likupang Timur Minut bernama Yos M Katulung alias Cali (18) dari Desa Kahuku Jaga 2 dengan dahi kirinya bengkak, diduga akibat dipukul seorang anggota Polsek Likupang bernama Brigadir JSH alias “Komandan Uti” saat memenuhi panggilan sebagai SAKSI.

AKP Steven Simbar

Hukumtua Desa Kahuku Emanuel M Tinungki kepada wartawan membenarkan adanya pengakuan warganya yang mana sudah dipukul anggota Polsek Likupang.
“Yos M Katulung alias Cali (korban/pelapor) adalah warga saya, dan keluarganya mengaku rambut anaknya dijambak dan dahi ditonjok oleh Komandan JSH,” katanya.

Tak terima anaknya diperlakukan demikian, orangtua korban pun melapor ke Propam Polda Sulut pada Senin (6/5) sekitar pukul 10.00 wita dan korban Cali diantar ke RS Bhayangkara untuk dilakukan visum et repertum dan mendapat hasil visum No pol. :K/04/V/219/Bag Yanduan.

Kapolsek Likupang, AKP Steven Simbar membenarkan informasi tersebut. Namun dia belum bisa memastikan kalau anggotanya benar telah menganiaya saksi perkara laporan pemerkosaan. “Nanti hari Senin tanggal 6 saya beri keterangan lebih lanjut,” katanya Sabtu (4/5) kepada sejumlah wartawan yang bertandang keruang kantornya.
Kapolsek juga menguraikan pengakuan Bripda JSH kepadanya, sebagai berikut:

Terduga Cali korban kekerasan aparat

Hari ini Sabtu 04 Mei 2019 sekira pukul 2.00 wita, saat Aiptu Zelix Mangaronda sedang memeriksa saksi perempuan bernama Sinta Daloma korban pemerkosaan, ketika itu sedang dikonfrontasi antara saksi lelaki Cali dengan korban perempuan Sinta.
“JSH berada di dalam ruangan Reskrim sedang melengkapi berkas lain yang ditangani. Karena merasa terganggu dengan suara Aiptu Zelix, JSH menanyakan kepada lelaki Cali yang tidak merespon pertanyaan Zelix saat itu dan tidak direspon juga oleh Cali,” kata Kapolsek.
Lanjutnya, saat hendak keluar ruangan, JSH melewati lelaki Cali yang sedang dikonfrontir, pada saat berada di samping lelaki Cali, menepuk bahu korban satu kali seraya mengatakan, kalau sedang ditanyai komandan, saksi harus beri keterangan jelas.
“Kemudian lelaki Cali langsung menangis. Lalu JSH mengatakan, ngana cuma bekeng bagitu so manangis”.
Akhirnya orangtua Cali langsung melakukan keributan dan mengundang Aiptu Zelix Mangaronda berkelahi, Komdan kalau suka bakalae kaluar kwa, bakalae deng kita.
“Saat itu juga JSH langsung keluar dan menenangkan orangtua Cali dan saat itu juga langsung diam. Dan orangtua Cali menelpon seseorang untuk mengadukan hal ini.
Masalah tersebut sudah aman dan JSH pindah duduk d ruangan penjagaan,” pungkas Kapoksek Likupang sembari menambahkan, ia tidak akan membela anggotanya bila bersalah.
“Yang pasti, anggota polisi tidak dibenarkan main pukul, apalagi terhadap saksi. Dan jika kasus ini sudah di tangani Propam Polda, berarti anggota saya harus siap diperiksa sebagai seorang aparat Polri yang taat hukum.”

bukti visum korban

Apapun jawaban BrigadirJSH yang di uraikan Kapolsek Likupang, menurut Maria Taramen, itu pengakuan bohong.
Saya katakan bohong karena, dugaan saya:
1. Korban dan saksi tidak sedang dikonfrontir. Karna pagi sekitar jam 9 pagi, diduga korban masuk dulu keruang penyidik. Setelah parampuan (korban) keluar, saksi (korban pemukulan) di panggil masuk dan di BAP. Jadi tidak dalam posisi berhadap-hadapan.

2. Si penyidik tak mau terima keterangan, saksi sebab penyidik sebut saksi bohong sementara saksi berkeras dengan keterangannya. itu yang membuat Komandan Uti menjambak rambut korban, menampar pipinya 2 kali, dan menonjok dahi korban. Saat akan menonjok korban kedua kalinya, itulah korban menagis sehingga memancing emosi orangtuanya diluar ruang penyidik.
“Saya bisa tahu sebab saat ayah morban menelpon saya, terdengar anaknya menangis. Saya sempat bersuara keras di telpon, kaluar dari ruangan situ, kaluar jo kong pi lapor di propam dorang. Nyanda ada aturan dorang musti ba pukul begitu. Mungkin karena mendengar suara saya, polisi itupun langsung diam,” ujar Maria Taramen.
Karena masih keluarga dengarnnya, Maria Taramen pun menyarankan agar keluarga korban melaporkan kasus dugaan penganiayaan anggota polisi itu ke Propam Polda Sulut.
“Korban didampingi keluarga, sudah di visum Propam Polda Sulut ke RS Bhayangkara. Besok akan menghadap lagi untuk proses lebih lanjut,” tandas Taramen. (Meikel)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*