Hujan Sedikit Saja , Separuh Manado Tergenang, Masyarakat Tuntut Janji Pemkot/Dekot

Spread the love

Lotulung: “Coba cari solusi, agar sebagian Kota Manado so nyanda mo banjer, jang cuma utamakan kepentingan pribadi dan kelompok saja”

MANADO, IdentitasPrime – Nama Kota Manado nan cantik, Kota Manado nan elok, Kota BERSEHATI (Bersih Sehat Aman Tertib Indah), sebentar lagi tinggal legenda saja.
Pasalnya, sejak peristiwa 15 Januari 2014 dimana banjir bandang meluluh – lantak Kota Tinutuan (Manado), ternyata sampai detik ini Manado tidak menunjukkan perubahan dan upaya serius mengantisipasi sejarah buruk 15 Januari 2014 tersebut.
Alhasil, setiap ada curah hujan turun lebih dari 2 jam, beberapa wilayah penting Kota Manado, pasti mengalami banjir dengan genangan cukup serius.

Contohnya hari ini Minggu (18/3), curah hujan cukup tinggi menerpa Kota Manado dan sebagian Kabupaten Minahasa dan Minahasa Utara.
Kendati hujan hanya terkonsentrasi sekitar 2 jam saja (pukul 15.00-17.00), terbukti di beberapa kelurahan, masyarakat telah menjerit karena air mulai naik menggenangi pemukiman padat penduduk, seperti daerah Tikala Kumaraka Kecamatan Tikala.

“Sudah saatnya Pemerintah Kota dan Dewan Kota Manado memenuhi janji kampanye saat pilkada/pilcaleg lalu. Kasihan masyarakat bertahun harus mengalami dan merasakan banjir di saat hujan deras seperti Ini. Cari solusi jangan pakai alibi fenomena alam saja,” seru Noman Cheney Lotulung, aktivis muda asal Kelurahan Mahakeret Barat.

Masyarakat, lanjut dia, sudah cerdas. Lotulung berharap para Anggota Dewan Kota dan Pemerintah Kota (Dekot dan Pemerintah Kota) Manado, untuk menggagas atau menyerap aspirasi masyarakat di setiap Musrembang
“Beri ide kepada masyarakat di Musrembang, atau terima aspirasi rakyat terkait saluran air, drainase, bahkan bantaran sungai bermasalah. Selain itu menyerap aspirasi, seringlah turun lapangan, agar tahu persis, apa.yang rakyat butuh saat musim penghujan,” sembur dia.

Masyarakat juga, timpal Cheney Lotulung, sudah bosan menghadapi bencana banjir yang kian hari kian jadi penyakit bagi masyarakat Kota Manado.
Coba cari solusi, agar sebagian Kota Manado so nyanda mo banjer, jang cuma utamakan kepentingan pribadi dan kelompok saja, sementara kepentingan masyarakat banyak malah di acuhkan seperti banjir di daerah Tuminting, Bunaken, Sario, Malalayang, Tikala, Paal2,” bayarlah hutang moral dan moril milik rakyat, agar upahmu besar di Surga,” tandas Lotulung.

Terpisah, Junita Tambengi, Alumnus Universitas Nusantara Manado, ikut angkat suara yang mana, masyarajat dan pemerintah harus berkordinasi secara serius.
“Samua torang bertanggungjawab atas masalah ini. Pemerintah, dan masyarakat harus baku-baku kase masukan dengan mengurangi bahasa diplomasi.
Banjir ini kian tahun kian sering dan kian mengandung bahaya, coba lia itu hutan-hutan daerah serta bukit dan lembah serapan air (daerah Ring Road dan sekitarnya) yang sudah pincang karena di alih fungsi tanpa melalui kajian Amdal lebih mendalam, dampaknya kan sudah kita rasakan sekaran,” ujarnya.

Begitu pula drainase yang banyak dibuat dari proyek dengan Dana APBD. Bagian dasarnya sudah penuh lumpur dan sampah.
“Ketidak seimbangan timbul disana-sini, resapan air sudah kian berkurang. Saat turun hujan, drainase, bahkan sungai-sungai yang ada, tak mampu lagi menampung debet air. Dilain pihak pemerintah agak masa bodoh, dilain pihak lagi, masyarakat nakal masih banyak yaitu membuang sampah sembarangam seperti ke got (saluran air), bahkan di kuala. Inilah yang susah,” timpal Junita.
Dari penilaian dia, kata Junita lagi, potensi banjir di Manado makin parah karna lahan dan pohon penampung volume air hujan, mulai habis.
“Drainase tak memenuhi standard, padahal hampir tiap tahun ada perbaikan, hanya saja perbaikan itu hanya sekedar kase lia bhwa anggaran APBD dipakai tepat sasaran, dan yang paling fatal adalah, masyarakat Manado masih nakal masih belum sadar dengan dong pe tradisi buang sampah sambarangan.
Jadi, daripada kitabberkoar-koar saljng mengkritik, sebaiknya mari kita introspeksi diri bersama-sama.
Dekot dan Pemkot saling terbuka membangun kesejahteraan masyarakat, warga juga belajar sadar diri terhadap lingkungan.
Cari solusi bersama, demi hasil yang maksimal dalam mengatasi ancaman banjir ini,” pungkas dia.(Ester W)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*