KASAT NARKOBA MINUT AKUI PEREDARAN NARKOBA SULIT DIBERANTAS, TAPI…

Spread the love
AKP Hilman Muthalip

Hilman: “Perangi Narkoba Dengan mengatakan PRESTASI YES, NARKOBA NO… Hidup sehat Tanpa Narkoba”

MINUT, IdentitasPrime – Karena berada diantara dua kota (Manado dan Bitung), dan merupakan jalur transit antar pulau dan antar provinsi, maka Kabupaten Minahasa Utara (Minut), tergolong ilayah hukum sensitif dan rentan dengan peredaran Narkotika dan obat-obat berbahaya (Narkoba).

Untuk mengatasi peredaran barang yang diharamkan oleh negara dan agama itu, Kepolisian Resort Minahasa Utara (Polres Minut), konsisten lakukan pemantauan disertai sosialisasi mendalam terhadap bahayanya mengkonsumsi Narkoba.
“Barang-barang haram yang terdiri dari beberapa golongan ini komplit bahayanya,” sebut Kasat Narkoba, Hilman Muthalib pada Selasa (25/6)

Disamping bahaya terhadap jiwa dan organ tubuh, lanjut Hilman, Narkoba sangat merugikan baik bagi si pemakai, maupun pengedar/penjual. “Bila ditangkap, sanksi hukumnya saja kita sudah dirugikan oleh denda dan putusan pidana penjara. Belum lagi dampak serelah mengkonsumsi barang jaram itu,” ujar mantan Kapolsek Kauditan ini.
Ia mengakui, tidak gampang memberantas embrio barang-barang laknat itu, karena jenis dan variasi harga, serta cara dan fasilitas untuk memperolehnya, ada.
“Narkoba golongan A seperti Pshykotropika atau Shabu, Putaw, Ganja, Heroin dan sejenisnya, kendati harganya sangat mahal, selama barangnya ada, orang tetap nekad memperolehnya, sementara untuk Narkoba golongan B berupa obat-obatan yang dapat diperoleh di apotek, dapat dijangkau dengan harga menengah kebawah. Belum lagi golongan C atau biasa disebut paket hemat yang dapat dijangkau dengan harga murah, itulah sebabnya Narkoba sulit dihilangkan,” urai Hilman.

Pihaknya, kata Kasat Narkoba AKP Hilman Muthalib, terus mencari dan menciptakan cara dan langkah jitu untuk mengantisipasi dan meminalisir setiap peluang dan benih-benih baru (bibit-bibit konsumen dan suplayer) dengan sistem sosialisasi dan ajakan berupa emahaman dan pematangan prinsip.
“Lakukan pencegahan sedini mungkin (tanamkan pemahaman dari usia dini), selalu katakan tidak terhadap orang yang mengajak, membujuk atau mempengaruhi kita untuk mcencoba mencicipinya. Pakai semboyan PRESTASI YES, NARKOBA NO, Mari Hidup sehat Tanpa Narkoba,” timpal dia.
Mengikuti perkembangan zaman dengan kecanggihan teknologi, polisi terus mengemas informasi sesuai situasi dan kondisi, mengingat para pembuat Narkoba terus mencari cara dan modus, agar dapat menjual barang laknat itu ke masyarakat.
“Cara awal membasmi Narkoba, yaitu mematikan peluang peredaran. Ajak anak kita memperbanyak aktifitas positif seperti kegiatan rohani, pinter memilih teman, jauhi pergaulan bebas yang berdampak buruk,” kata Hilman.

Peredaran Lem Eha-Bon

Kasat Narkoba Polres Minut, AKP Hilman Muthalib menampik kalau disebut penyakit masyarakat pengkonsumsi ‘Lem Eha-bon’ tidak dapat diberantas.
“Untuk mengantisipasi peredaran dan pengguna Lem Eha-bon, bukan tidak dapat dibasmi, namun produk UU yang mengikatnya, masih lemah. Contohnya dalam UU No 35 tahun 2009, tentang Narkotika, sampai saat ini belum ada pasal yang mengikat status Lem Eha-bon secara spesifk. Ada 3 langkah yang harus dilakukan untuk membunuh peluang peredaran Lem Eha-Bon, yaitu:

1. Pemda harus intens lakukan pemantauan kebebasan penjual seperti pada para Tukang (Bas)

2. Perangkat kelurahan/desa yang melihat anak-anak membawa Lem eha-Bon, langsung ambil tindakan berupa penyitaan barang, ambil data, dan beri nasehat

3. Orangtua yang berprofesi sebagai Tukang alias Bas, bila butuh sebaiknya jangan menyuruh anak-anak membeli

“Dengan adanya sosialisasi dan presentasi yang gencar, pasti para menyedia maupun pengkonsumsi Narkoba jera. Setiap saat, ingat semboyan PRESTASI YES, NARKOBA NO, Mari Hidup sehat Tanpa Narkoba,” pungkas Hilman. (Meikel)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*