LSM ARUN Janji Kawal Kasus Diduga Timsus dan Buser Polsek Maesa Salah Tangkap Orang

Spread the love
  • 42
    Shares

Ingkiriwang: “Kami Minta Pak Kapolda Sulut Seriusi Prosedur Salah Tangkap Ini”

BITUNG, IdentitasPrime – Proses penangkapan Fandi Mamuli (25) buruh serabutan warga Kelurahan Bitung Tengah Kecamatan Maesa Kota Bitung pasca Rabu (7/11) pukul 00.00 wita silam yang diduga dilakukan oleh Tim Buser Polsek Maesa atas perpanjangan tangan Timsus Polda Sulut (sesuai keterangan korban red-), terindikasi ada kekerasan karena arogansi aparat. Terendus media, kasus ini akhirnya bergulir dan menjadi konsumsi publik.

Pasalnya, semua masyarakat di tempat kediaman Fandi tak percaya kalau pria baik-baik beranak dua (2) ini dibekuk polisi, karena diduga terlibat perempokan salah satu swalayan di Manado.
“Bukanmain dang, so yanda da laeng orang so dorang komandan mo loku kasiang. Kyapa kong ini anak yanda pernah berurusan dengan hukum ditangkap tanpa pemberitahuan ke keluarga padahal komandan tau rumahnya. Kyapa anak-anak sini selalu mendapat perlakuan tak adil,” ujar Ungke Mopangga keluarga korban, Jumat (9/11).
Seperti diberitakan sebelumnya, sesuai pengakuan Fandi, ia tiba-tiba disergap beberapa pria, namun dikenalnya ada tiga (3) diantaranya Anggota Buser Polres Bitung dari Polsek Maesa.

Fandi juga menceritakan, saat dijemput ia sudah diperlakukan dengan kasar oleh tim Buser. “Tangan saya yang bekas patah diputar kebelakang, ada yang menjambak rambut saya, rusuk saya dipukuli tapi saya tak dapat melihat mereka, kemudian digiring sambil ditanyai, disuruh mengaku keterlibatan saya dengan perampokan Indomaret,” tutur Fandi yang terus digiring dengan mata dan tangan ditutup dan dilingkari Lakban.

Dijemput sekitar pukul 01.00 wita, Fandi diserahkan ke Timsus, nanti dijemput seorang Buser Polsek Maesa, siang hari sekitar pukul 11.00 wita.
Menariknya uang gaji Rp. 600.000 di saku celananya sudah tidak ada.”Saya tanya uang saya mana, komandan bilang, ada. Tapi sampai saya pulang, uang tidak dikembalikan,” kenangnya.

LSM ARUN BERI APRESIASI KETEGASAN KAPOLRES BITUNG

Mengetahui hal itu, Kapolres Bitung AKBP Stefanus Michael Tamuntuan SIK kaget. Pamen Polri tersebut kepada media ini mengatakan, tak akan berpihak pada aparat yang inprosedural.
“Laporan sudah kami terima, sedang dalam pendalaman sambil terus berkordinasi dengan Polda, mengingat anggota Buser Polsek Maesa hanya membantu Timsus mencari keberadaan yang bersangkutan,” jelas mantan Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan itu.

Awalnya Fandi dan keluarga disarankan untuk melapor ke Propam Polda. Tapi setelah mempelajari keterangan Fandi, petugas Propam Polda menjelaskan bahwa Polres Bitung justeru yang harus menerima dan menindak lanjuti laporan ini. Kembalinya dari Polda Sulut, malam itu juga Fandi kembali ke Propam Polres Bitung, dan laporannya diterima.

“Kami sudah menerima laporan Fandi dan langsung memproses nama anggota Polsek Maesa yang terlibat kekerasan fisik terhadapnya. Selanjutnya, tinggal kami berkordiasi dengan pihak Propam Polda,” tandas Kapolres Bitung.

Kejadian salah tangkap Buser Polsek Maesa dibawah kordinasi Timsus Polda Sulut terhadap Fandi Mamuli warga Kelurahan Bitung Tengah, mendapat perhatian khusus LSM Advokasi Rakyat Untuk Nusantara (ARUN). Ketua Umum LSM ARUN melalui Ketua Investigasi DPW Sulut, Alfrets Ingkiriwang menyesalkan perbuatan aparat tersebut.

“Jika benar ada tindak kekerasan, itu harus ditindak lanjuti secara serius. Kami salut dengan janji Pak Kapolres Bitung yang akan tindaki anakbuahnya yang menyalahi protap. Dan kami harap kasus ini sebaiknya dituntaskan, jangan dipeti es-kan sebab akan kami kawal,” katanya Minggu (11/11).
Sebagai LSM yang juga berkapasitas memantau kinerja aparatur negara, Ingkiriwang meminta Kapolda Sulut seriusi masalah ini. “Kami minta Pak Kapolda Sulut seriusi prosedur salah tangkap ini, sebab secara kasat mata kami menilai disini sudah ada arogansi terhadap kaum lemah,” sembur aktivis yang akrab disapa Utu ini.
Lanjut dikatakan Ingkiriwang, pihaknya salut dengan itikad baik Polres Bitung dan Propam Polda yang akan berkordinasi mengenai keabsahan laporan Fandi Mamuli. Akan tetapi, ada dua hal yang tak boleh dikesampingkan.
“Baik Polres Bitung maupun Propam Polda Sulut, saat mengambil keterangan, pelapor harus didampingi kuasa hukum atau minimal beberapa wartawan, agar tidak ada penekanan. Selain itu, jangan giring korban hanya melapor dugaan mendapat perlakuan tidak pantas, tapi ada 2 hal yang harus diungkap dan dituntaskan.
Pertama, pertanggungjawaban uang gaji korban yang raib, sedangkan yang kedua, kembalikan nama baik korban sebab bisa saja bukan dia oknum yang dimaksud, sementara seluruh masyarakat sudah menganggap Fandi Mamuli adalah salah satu orang yang diburu aparat,” jejal Alfrets.

Agar nama baik polisi sebagai pengayom dan pelindung masyarakat menjadi harum, Alfrets juga berharap kasus ini dilihat dengan kacamata belas kasihan sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. “Mari sesesaikan kasus ini secara baik-baik, dengan memakai kacamata keadilan sebagai sesama makhluk ciptaan TUHAN. Sebab, bagaimana jika dibalikkan, Fandi Mamuli jadi aparat, dan aparat jadi Fandi Mamuli. Apa anda senang diperlakukan begitu. Semoga kasus ini dapat diaelesaikan dengan memuaskan, agar tak ada pihak yang dirugikan sesudah yang terjadi dengan korban ini, dan sekali lagi, kami akan mengawalnya dengan sabar,” tutup Alfrets Ingkiriwang.(Red/Noval)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*