Matarnem Tonsea Union Foundation (TUF), Gelar Seminar Budaya Dengan Tajuk Tonsea Bangkit

Spread the love

Thema: ‘Memaknai dan Menghidupi Budaya Tonsea’

VAP: “Saya akan siapkan Perda supaya bahasa Tonsea boleh masuk kurikulum tahun depan”

MINUT, IdentitasPrime – Melihat masa keemasan adat, budaya, bahasa dan tradisi Suku Tonsea (Suku asli Minahasa Utara kian hari kian menipis oleh pengaruh peradaban dan modernisasi, maka para pemerhati dan intelektual Minut pun mencetus sebuah gebrakkan.

Matarnem Tonsea menggelar seminar Budaya Dengan Tajuk Tonsea bangkit dengan Thema: ‘Memaknai dan Menghidupi Budaya Tonsea’
Adapun para relawan pemateri, masing-masing yaitu Drs Ramoy Markus Luntungan, Ibu Truitje Supit Budaya, peiliki LPK Suzana dan Sanggar Lumaya, Dokter Ahli Farmakologi yang memahami teknik pengobatan tradisional, juga Kadis Pariwisata Sulut Ferry Sangiang.

Turut hadir pula Mantan Bupati Minahasa Utara, Sompie S F Singal MBA, manatan Sekda Drs Johanis Rumambi, dan mantan Kaban Kesbang Marthino Dengah, Mayjen TNI Purn Lodewijk Pusung, mantan Pnj Bupati Ruddy Umboh dan Lona Lengkong.

Selain itu, tampak beberapa tokoh senior berpengaruh, ada mantan dosen, beberapa pensiunan guru, dan hukumtua.
Bukan itu saja, bahkan tokoh-tokoh muda seperti Feky Mamahit, Ketua LSM Waraney Puser In Tana Toar Lumimuut Minut, aktivis William Luntungan, John Simbuang dan belasan rekan wartawan Minut, turut hadir dalam gelaran Seminar Budaya Dengan Tajuk Tonsea Bangkit ini.
Sekitar 125 hadirin, diharuskan berdialog dengan berdiskusi dengan menggunakan bahasa daerah Tonsea guna mencari solusi yang terbaik agar Tarnem Tonsea Wo Ma Pantik Tonsea (Nuwu Tonsea) tetap terpelihara.

Kepedulian terhadap ancaman kepunahan Matarnem Tonsea (Bahasa Tonsea) Tonsea Union Foundation (TUF) mengelar seminar Budaya yang adalah seminar pertama kali di Indonesia dengan menggunakan Bahasa Tonsea di Sutanraja Hotel Maumbi, Rabu (7/8/2019).

“Sebagai Bupati Minut saya dukung betul soal Budaya apalagi budaya Tonsea, torang juga bersyukur bapak Presiden boleh hadir di Minut untuk KEK Pariwisata. Kan budaya juga ada didalamnya torang baku tunjang for kemajuan Minahasa Utara lewat pelestarian budaya, ” tukas Panambunan.

Bupati Minut juga memastikan bahasa Tonsea akan diupayakan menjadi bagian dari kurikulum pendidikan di Minut.
“Budaya Tonsea memang harus kita lestarikan apalagi buat anak-anak sekolah, kedepan saya akan siapkan Perda supaya bahasa Tonsea boleh masuk kurikulum tahun depan, ” janji Panambunan.

Ramoy Markus Luntungan selaku Ketua Tonsea Union Foundation menjelaskan kehadiran TUF adalah organisasi baru yang memang ingin menjangkau kebutuhan generasi muda yang harus juga siap menghadapi tantangan.

“Jadi actionnya pada pelaksanaan kurikulum muatan bahasa dasar untuk anak-anak SD, dan uji cobanya nanti di bulan September dan nantinya akan juga bersama Pemkab Minut bagaimana kedepannya program ini,” beber Ramoy.

Misalnya, lanjut Ramoy, soal guru-guru yang nantinya mengajarkan bahasa daerahnya. “Dan yang ingin tahu lebih dalam lagi, seperti mengapa kami menggabungkan nama Tonsea dan bahasa Inggris Union supaya kulturndan budaya Tomsea juga bisa Go internasional, “urai RML.

Berbicara budaya Tonsea Inisiator acara, William Luntungan menegaskan jika budaya ini adalah aset dan warisan yang sudah seharusnya dilestarikan dan dijaga selama-lamanya.

“Kita belajar membiasakan sesering mungkin berbahasa walau kebanyakkan harus dibantu oleh gerakkan anggota tubuh, namun jika kita sudah mencintai serta berani berbicara dengan Bahasa Tonsea, sebagai orang Tonsea, tanpa kita sadar kitapun harus akui bahwa Bahasa Tonsea cukup indah,” katanya.

Lanjut dikatakan William, kita dengar lamgsung kita ucapkan, atau membiasakan diri berdialog atau berbicara dengan orang lain tentu bahasa daerah ini akan terus diingat kemudian dimengerti dan pendidikan berbahasa daerah ini bagi saya akan sangat menumbuhkan rasa cinta budaya lokal khusus bagi anak anak sekolah, menggunakan Tarnem Tonsea sehari hari adalah langkah Preventif terhadap ancaman kepunahan,” kata Luntungan.

Terpisah, Ketua panitia Maximilian Pinontoan membeberkan seminar ini diyakini sebagai jawaban atas tantangan zaman, Era Digitalisasi dan Generasi 4.0

“Penggunaan teknologi cerdas memang menghubungkan berbagai bidang kehidupan manusia namun semua itu jangan sampai meninggalkan identitas kita sebagai orang Minahasa – Tonsea, sungguhpun batang merdeka ingat pucuk akan terhempas, janganlah kita terlena tantangan zaman sudah di batas, ” urai Pinontoan.(Meikel)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*