OPA HERMAN SEDIH, LAHAN WARISAN ORANG TUANYA DI DESA KEMA I SUDAH DIGARAP PROYEK PLTU TANPA SEIJINYA

Spread the love
  • 19
    Shares

Diduga Mangrove dan Sungai Sudah ‘Disentuh’

Kuat Dugaan Perusahaan Pelaksana Mengoleksi Banyak Tenaga Kerja Asing

MINUT, IdentitasPrime – Astagaaaa… Inilah kata yang melonjak dari bibir lelaki tua renta yang oleh warga Desa Kema I dan Desa Kema II dikenal dengan nama Opa Herman Holderman (80-an) ketika mendapati tanah peninggalan orangtuanya, sudah berubah wujud dan jadi milik pihak lain tanpa sepengetahuannya.
Terpantau, lahan berukuran 150 Hektar yang berada di area “Kelong” Desa Kema I Kecamatan Kema, yang saat ini sebagian sudah dikuasai oleh proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PT. Toba Bara Sejahtera (Tbk) dengan pelaksana PT. Minahasa Cahaya Lestari, ironinya berdasarkan bukti warisan, lahan milik keluarga Holderman, sesuai surat yang ada.
Aneh tapi nyata, pada beberapa pengumuman yang disebar di beberapa lokasi pelaksanaan pekerjaan awal, pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 2X50 Mega Watt itu, sudah jadi milik pihak lain.
Menurut Yoppy Wawoh, SH kuasa hukum Keluarga Holderman, saat dijumpai www.identitasprime.com dilapangan, Senin (18/09/2018), bukti kepemilikan yang saat ini dimiliki oleh keluarga Holderman lewat Hendrik Holderman, sangat otentik membuktikan bahwa lahan yang saat ini sebagian telah dilaksanakan pekerjaan pembangunan PLTU, adalah sah sebagai hak milik berdasarkan surat pembagian.
“Surat pembagian dan surat silsilah keluarga dari tahun 1900-an, sangat otentik, bahkan dengan surat-surat tersebut, telah delapan setifikat lahan yang diterbitkan BPN,” kata Wawoh.
Sampai hari ini pihaknya sedang menunggu dan membuka peluang agar dari pihak perusahaan memperlihatkan etiket baik dan mau berkordinasi dan.mempertanggungjawabkan status kepemilikan lahan tersebut.
“Sebagai WNI, kita bangga kalau ada proyek besar demi kebaikkan masyarakat dan daerah kami, tapi jangan korbankan hak orang demi keuntungan sepihak. Bila tidak ada itikad baik, kami akan menempuh jalur hukum dan upaya penolakan,” tukws lowyer dan Ketua LSM BADAI DPD Sulut itu.

Salah satu ahli waris Roy Holderman menyebutkan, pihaknya sama sekali tidak bermaksud menghambat investasi yang saat ini sementara dilaksanakan.
“Silahkan lanjutkan pembangunan, namun hak milik keluarga juga harus diperhatikan, sebab selama ini pihak perusahan pembangun PLTU,” katanya.
Pihaknya menyesalkan, walaupun sudah beraktivitas pada lahan yang ada, sama sekali tidak ada itikat baik untuk menghubungi kami sebagai keluarga dan ahli waris yang sah atas lahan di Kelong ini.
“Jika terjadi transaksi atau ganti untung, itu sama siapa, sebab keluarga ahli waris yang memiliki bukti kepemilikan berdasarkan pembagian ini, justru tidak tahu dan tidak pernah bertransaksi apapun dengan pihak manapun. Bahkan kami kaget, ketika mengetahui ada aktivitas pembangunan di atas lahan milik keluarga Holderman ini,” tegas Roy.

Berdasarkan pantauan langsung, terlihat aktivitas kendaraan berat yang melakukan pengkatingan dan penimbunan di lokasi yang semula adalah tempat pariwisata yang sudah dibangun akses jalan hotmix dan saluran drainase oleh pemerintah.

Walaupun telah ada papan pengumuman pengawasan lahan dari keluarga Holderman dan Kantor Hukum Sangraka Indonesia, aktivitas kontruksi PLTU tetap dilaksanakan, bahkan semenanjung yang dipenuhi tanaman Mangrove, terpantau ada beberapa bagian telah ditutupi tanah yang di katting dari tepian perbukitan karena pelebaran jalan.
Bukan itu saja, sungai yang tercipta oleh alam untuk mengalirkan air dari rumpun Mangrove menuju Pantai Firdaus, telah ditimbun dengan tanah.
Selain masalah-masalah diatas, ada informasi yang mana perusahaan raksasa dari luar daerah ini telah mendatangkan banyak temaga kerja asing. “Iya kami sering lihat banyak orang China di lokasi proyek itu,” kata warga yang minta namanya tidak disebutkan.(RED)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*