Pelabuhan Munte Mengenaskan, Konsumen Berharap Pemerintah Jangan Tarik-Ulur Kepemilikan

Spread the love
  • 76
    Shares

MINUT, IdentitasPrime – Sungguh miris nasib Pelabuhan Feri di Desa Munte Kabupaten Minahasa Utara. Pasalnya dari tahun ke-tahun, akses transportasi darat yang dibangun dari anggaran negara yang tidak kecil ini terpantau tidak ada perawatan atau pemeliharaan.
” “Dari samua pelabuhan feri di Sulut, Kita lia cuma ppelabuhan Feri Minut punya ini yang paling ancor,” kata Marhain Sandang (51) pelanggan jasa angkutan kapal Feri Manado-Sangihe Senin (11/03).

Dirinya juga mengaku sangat kasihan melihat nasib staf Dishub pengelolah Pelabuhan Feri Munte ini.
“Harusnya dorang kasiang cuma menagih retribusi sambil mengawasi kelancaran angkutan yang ada, tapi karena kondisi area rusak, brapa kali torang lia dorang musti baku tola oto yang somo ta maso di laut gara-gara keadaan jembatan begini,” katanya.

Kepala Pelabuhan Minte, Frangky Kaunang ketika dikonfirmasi, membenarkan kerawanan yang terjadi di jembatan Feri tersebut. Namun ia tak tahu harus bagaimana.
“Kami hanya pegawai yang dirugaskan diaini bersama para honorer,” jawabnya.
Disamping itu juga, lanjut dikatakan Kaunang, Pelabuhan Feri Munte juga belum.jelas status kepemilikannya. “Saya kurang tahu, apakah pelanuhan ini milik Balai Kementrian Perhubungan Darat, ASDP, Dishub Provinsi, atau diahub Minut. Soalnya kami hanya ditugaskan seperti ini,” jelasnya.

Ditanya anggaran dari mana yang dipakai pihaknya membeli batang-batang kelapa untuk menutup lubang-lubang di dermaga itu, Kaunang enggan menjawabnya. Namun dari infoemasi beberapa honorer Dishub Minut, itu adalah swadaya daei Kepala Pelabuhan Frangky Kaunang.

Ditengah jembatan pelabuhan feri terpantau beberapa lembar lempengan besi pipih yang sudah membungkuk karwna sering menopang muatan dan truk yang berat.
Kurang lebih lima (5) meter tampak balok-balok (moot) batang kelapa sijadikan jembatan untuk menutupi lubang menganga lebar yang diduga akibat lantai besi pipih yang sudah jebol akibat keropos dan karat dimakan usia.

“Harusnya pemerintah baik Pemkab/Dekab atau Pemprov/Deprov lakukan pembahasan agar boleh memastikan, siapa yang berhak atas pelabuhan ini dan siapa yang harus menggelontorkan anggaran unruk memelihara Pelabuhan Feri ini,” ujar Pak Wilmardus Megeh (55) pedagang sembako atar pulau memberi saran.
Saran ini, lanjut Pak Wilmar demi kuntinuitas nasib dari Pelabuhan Feri Desa Munte sebelum terlanjur rusak lebih parah.
“Kalau antara Pemprov dan Pemkab sudah sepakat, tinggal anggaran yang di plot agar dapat mengalirkan dana pemerliharaan serta peningkatan fasilitas di Pelabuhan Feri ini. Kami tidak perduli dengan retribusi yang masuk itu di kemanakan, tapi sekali lagi kami menawarkan usul untuk nasib Pelabuhan Feri ini kedepan nanti,” pungkas Megeh.(Meikel)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*