Pengrusakan Kebun dan Kuala Marewuwung Oleh PT MSM/TTN Bakal di Demo Ormas Adat ADL dan Warga Desa Kokoleh

Spread the love
  • 6
    Shares

MINUT, IdentitasPrime – Dampak pengrusakan lahan Perkebunan dan Kuala Marewuwung di wilayah Desa Kokoleh I Kecamatan Likupqng Selatan yang ditengarai dilakukan oleh pihak PT MSM/TTN dan kroni-nya yang di ungkap oleh Kumtua Nikolas Pelealu yang turun bersama tim investigasi dibawah kordinasi Jefran Herodes de’Yong dari LSM Waraney Puser In Tana Toar-Lumimuut pada Jumat 15 September silam, mendapat respon tajam dan dukungan penuh dari berbagai kalangan.
“Banyak hal yang tidak maksimal telah dilakukan pihak perusahaan itu. Salah satunya yaitu mereka datang menyodorkan saya berkas untuk ditanda tangani, namun saya tidak tahu apa maksud dari berkas tersebut,” ujar Kumtua Kokoleh I Nikolas Pelealu Minggu (16/09).
Dilain hal, sebagai kepala pemerintah di desanya, Pelealu mengklaim yang mana selama proses ganti rugi pembebasan lahan perkwbunan Marewuwung, dirinya tidak pernah dilibatkan.
“Mereka tidak berkordinasi dan tak mau libatkan saya, sebab mwreka tahu kalau saya dilibatkan, pasti saya komplain harga uang pembebasan lahan yang terlalu murah tak cukup untuk makan satu keluarga (harga tanah per-meter hanya sekitar 3.000-7.000 rupiah saja),” ungkap Pelealu.
Saat dirinya turun ke perkebunan dilingkar tambang bersama beberapa tim wartawan Minut, Pelealu begitu emosi dan marah mendapati Perkebunan Marewuwung telah porak-poranda dijarah PT MASM/TTN.
“Ini sebabnya saya tidak pernah dilibatkan dalam urusan mereka dengan masyarakat kami. Saya yakin ada yang tidak beres, lihat saja masa Sungai Marewuwung ditutup dan ditimbun dengan material bekas galian tanpa dibenahi begini,” umpat Kader PDIP DPC Minut itu.

Sementara, John F S Pandeirot Ketua LSM Adat Waraney Puser In Tana Toar-Lumimuut DPB Sulut melalui koordinator Tim Investigasi, Jefran Herodes de’Yong yang turun bersama tim Kumtua Kokoleh I ke Perkebunan dan Kuala Marewuwung membenarkan adanya pengrusakan itu.
“Pengeboran di ratusan titik lahan telah merusak keseimbangan alam, kelak akan berdampak kepada masyarakat dibawah tambang seperti banjir bandang dan pencemaran lingkungan. Ini harus di lawan,”kata Jefran..

Hal ini sontak langsung menuai tanggapan danndukungan berbagai pihak. Sebut saja Maria Taramen aktivis Kaum Pencinta Alam KPA, yang mengecam keras perbuatan PT MASM/TTN dan antek-anteknya.
Begitucpula Novie Ngamgi ST, Ketua Lembaga Sosial Control Sulut Coruption Watch (LSC SCW), mwnolak keras perbuatan itu dan tinggal menanti kordinasi dari rekan-rekan, apa langkah yang akan diperbuat atas pwristiwa penutupan Kuala Marewuwung itu.

Dilain pihak, Ormas Adat Aliansi Doyot Linekepan (ADL) dan LSM KIBAR Minut, turut mengecam keras ulah PT MSM/TTN terhadap lingkungan hidup di Desa Kokoleh Satu.

Ketua Umum Aliansi Doyot Linekepan Meybi Nelwan melalui Ruddy Kasamu Panglima Waraney ini mengaku turut prihatin atas pembongkaran lahan yang tidak sesuai prosedur.
“Menghambat laju aliran sungai saja harus ada aturan dan dokumen resmi dari Badan Lingkungan Hidup dan Tata Ruang, apalagi menutup aliran sungai seperti yang kami dengar,” tukas Kasamu.
PT MSM/TTN selaku perusahaan induk dari pekerjaan pengrusakan lingkungan itu, lanjut Ruddy Kasamu yang juga menjabat Ketua DPT KIBAR Minut, berjanji akan mendukung penuh penolakan Kumtua Kokoleh I, Nikolas Pelealu.
“Kami minta PT MSM/TTN dan antek mereka secara resmi menghadap Pemerintah Desa Kokoleh I, sambil mencari solusi bersama, dan libatkan seluruh wartawan dan media Biro Minut untuk hasil dari pertemuan itu. Kalau tidak di indahkan, maka ami dari ADL & KIBAR akan melakukan aksi demo terkait perusakan dan pencemaran lingkungan,” janji Ruddy Kasamu. (Red)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*