POBSI Sulut Terancam Hancur, Namanya Tercantum di Kejurnas, Iwan H Pondaag di Manado Kaget

Spread the love
  • 11
    Shares

Ricky Liwang: “Bobroknya kepengurusan, rugikan karier pebiliar Sulut”

Pondaag Minta Masalah Namanya Tercantum Tapi Tidak Diberitahu, Mesti di Usut Oleh POBSI Pusat dan Aparat Hukum

NASIONAL, IdentitasPrime – Sebutan “Provinsi Nyiur Melambai (Sulawesi Utara adalah Gudang Atlet” bukanlah isapan jempol belaka.
Pasalnya, hampir semua cabang olahraga, ada saja Putera Kawanua (sebutan Kota Manado) dilibatkan didalamnya, semenjak dahulu kala.

Berbicara Cabang Olahraga Bilyar, Sulut kerap mencetak sejarah dan tak kalah pamor dengan provinsi lain seperti Jakarta dan Jawa Timur.

Nama besar seperti Iwan Herry Pondaag merupakan salah satu pebiliar Sulut dari 3 nama paling disegani para pebilyar se-Indonesia bahkan Asia Tenggara.
Selain Pondaag, ada juga nama James Lengkang (Liku), Ramly Hardjan, Ricky Liwang, Ferdinand Inyo Carolles, Roy Tandayu, Jendry Amrain, Sonny Rumondor, David Singal, serta sederetan nama baru, merupakan petarung-petarung yang mampu membuat mimpi buruk bagi lawan-lawannya.
Saking banyaknya atlet bilyar berbakat di Tanah Sulawesi Utara, tidak jarang para sesepuh seperti nama-nama besar diatas harus gagal melangkah ke putaran lanjutan karena tumbang dikalahkan para bibit baru.

Memasuki tahun 2015 keatas, perkembangan olahraga biliar di Sulut mengalami kemerosotan di pentas bilyar nasional maupun internasional, baik dari Cabang Olahraga 9 Ball, 15 Ball maupun 10 Ball. (Ini diluar Cabang Olahraga 3 Ban maupun 3 Ball), mengingat Janes Lengkang (Liku) adalah atlet bilyar yang memiliki kharisma di cabang tersebut.
Kemerosotan penorehan nama atlet bilyar Sulut di tingkat nasional, kian terpuruk ketika dalam beberapa kegiatan nasional, para pebilyar langganan Sulut tidak ikut serta.

Puncak kehancuran kebesaran nama bilyar Sulut tiba di tahun 2018. Para pebilyar mengalami kelesuan dan kekurangan jam terbang.
Pertandingan bergengsi hanya dilaksanakan oleh masyarakat umum dengan di danai oleh perorangan saja, sementara Agenda POBSI Sulut, nyaris nihil.
Bahkan, satu hal aneh terjadi manakala dalam agenda Kejurnas di Bandung Jawa Barat beberapa waktu lalu, tiba-tiba menyeruak nama Iwan Herry Pondaag sebagai peserta lomba asal Provinsi Sulawesi Utara. Hal ini malah melahirkan rasa heran dan aneh bagi Iwan Herry Pondaag.
“Kenapa bisa, nama saya ada dipapan peserta lomba, sedangkan saya tidak pernah diundang maupun diberitahu akan hal itu,” tutur Pondaag bingung.
Dirinya mengaku heran, sebab sebelum-sebelumnya tidak ada pemberitahuan secara formal maupun resmi.
“Bagaimana tidak kaget, saya saja tidak pernah mendapat informasi kalau ada Kejurnas di Bandung Jawa Barat, dan ada jatah utusan Sulut. Memang pada 23 November 2018 silam, Denny Pua pengurus POBSI Sulut pernah meminta saya berangkat mewakili Sulut ke Kejurnas di Bandung Jawa Barat,”aku Pondaag.
Hanya saja dirinya menolak secara halus dengan alasan ada bertabrakan agenda keluarga. “Saya tidak suka mewakili daerah tanpa ada proses uji tanding atau seleksi secara resmi sesuai prosedur dan cabang-cabang yang ditentukan, agar tak ada bicara miring dibelakang hari,” tukas lelaki dewasa yang kerap disapa Herry itu.

Masalah namanya dicantumkan dalam tim-table pada Kejurnas di Bandung Jawa Barat, dan harus dinyatakan kalah WO, sebagai fighter senior, sangat membuatnya terpukul.
“Masalahnya turnamen itu berskala nasional, andai saya hadir, saya optimis mampu menumbangkan lawan saya. Nama saya tertera di bagan bola 10 & 15 di Bandung saya merasa sangat dirugikan oleh POBSI Sulut. Saya berharap hal seperti ini jangan lagi terjadi pada saya dan pebilyar Sulut lainnya. Dan masalah ini mesti usut oleh POBSI Pusat dan Aparat Hukum,” pungkas Pondaag seraya menambahkan, unruk keterwakilan Sulut ke luar daerah, tidak boleh utusan hanya ditunjuk. “Saya tegaskan untuk mengutus atlet sulut, harus lewat proses seleksi agar yang mewakili adalah atlet-atlet terbaik serta dibekali mentalitas juara,” pungkas pendulang medali emas dan terbanyak milik Provinsi Sulut itu.

Terancam hancurnya masa depan pebilyar Sulut ternyata mwndapatpwrhatian khusus Ricky Liwang salah satu pebilyar senior Sulut. “Yang disuarakan Herry Pondaag saya dukung. Para utusan Sulut harus lewat seleksi dan ada dana serta fasilitas memadai. Kemerosotan cabang olahraga bilyar di Sulut bukan terletak pada fasilitasnya, tapi datang dari Pengurus POBSI Sulut,” katanya Sabtu (1/12) via wats-app.
Menurut Ricky juga, melemahnya denyut nadi bilyar di Sulut dikarenakan ketidak tegasan Ketua POBSI Sulut yang tak ada upaya menggelar turnamen dalam rentang waktu lama.
“Ketua POBSI SULUT harus ambil tindakan tegas. Non aktifkan Sekum POBSI Sulut yang sementara diambil alih oleh wakil sekertaris yaitu Firman Kumayas, kemudian buat terobosan dan lomba-lomba bergengsi agar jam terbang para pebilyar tetap eksis,” timpal Ricky.
Lebih jauh atlet senior yang kerap disapa Om Jack ini berharap, awal tahun 2019 nanti ada pembaharuan di tubuh PB POBSI Sulut.
“Segera reformasi PB POBSI Sulut, agar nasib para pebilyar Sulut uang harum bisa mengkilap lagi bahkan ke seantero dunia,” tandas Om Jack (Ricky) kepada media ini. (Noval)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*