Porprov Sulut Di Minahasa, Tuan Rumah Diduga Pakai 12 Atlet Plus Coach Dari Jabar

Spread the love

Luntungan Sebut, Pakai Jasa Atlet Dan Coach Luar Menutup Peluang Atlet Lokal

MINAHASA, IdentitasPrime – Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Utara (Prorprov Sulut) ke-IX tahun 2017, yang digelar di Tondano (Kabupaten Minahasa) sebagai tuan rumah, merupakan tajuk olahraga bergengsi para generasi muda.
Pasalnya, Porprov merupakan awal impian indah semua atlet di Provinsi Sulawesi Utara, untuk maju ke tingkat lebih bergengfsi nantinya.
Kali ini, impian para atlet muda menggantungkan nama mereka dengan mendulang medali di Tondano, berlangsung panas dan sangat ketat.
Hari ini, Sabtu (14/10), Team Volly-ball puteri Minahasa Utara, bertemu team tuan rumah Kabupaten Minahasa di babak semi final.
Pertandingan berlangsung alot dan seru, walau team volly puteri Minut harus kalah dengan skor besar 3-0, namun dalam 3 (tiga) set atau babak itu, point kedua kubu jaraknya cukup rapat.
Setelah melalui drama pertandingan alot, dibawah ratusan pasang mata para suporter dan penonton, akhirnya team Minut harus takluk pada team tuan rumah.
Tapi kemenangan team tuan rumah, harus dibayar mahal. Pasalnya,
Ada beberapa suporter curiga team tuan rumah telah memakai jasa atlet luar Sulut alias Jawa Barat.
“Semua mereka pakai logat nasional, bahkan dialek Jawa Barat (Sunda). Begitu juga coach mereka,” kata salah seorang wartawan yang sempat mewawancarai team yang ditengarai memiliki 12 pemain dan coach asal Jawa Barat itu.
Menanggapi dugaan tersebut, William Luntungan salah satu pemerhati Altetik Minut, meradang.
“Kalau itu benar, sebagai pecinta olahraga di Sulut, saya mengecam keras sikap dari pihak yang memaksakan tim volly-bal asal luar daerah ikut bertanding dalam Porprov. Ini juga merugikan karier atlet lokal, sebab peluang mereka justeru dikunci pemerintah dan panitia setempat. Semoga Pak Gubernur Sulut mengetahui hal ini. Kalau perpindahan atlet antar kabupaten/kota saja, lanjut William, masih bisa dimaklumi,” timpal Luntungan sembati menambahkan, tapi kalau sudah pakai atlet dari luar, apalagi hampir satu team dilengkapi coach-nya, itu sudah tak tahu malu. Dimana rasa sportifitas yang harusnya diteladani para generasi muda,” sembur Luntungan.
Kalah dan menang itu, katanya, merupakan hal biasa dalam turnamen, tapi masih jauh lebih berharga lagi kalau kalah karena di-politisir dan dicurangi.
“Saya katakan demikian, sebab untuk apa meraih kemenangan dengan memanfaatkan ketidak jujuran,” tandas William Luntungan.(Red)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*