Siang-Malam Mandi Debu, Warga Desa Pinenek Kecam Kinerja dan Pengawasan “Diduga”… BPJN XV

Spread the love

Dombo: “Presiden RI harus evaluasi kinerja Instansi terkait, pengawas, kontraktor dan perusahaan pelaksana. Mereka kami sebut tak punya otak”

NASIONAL, IdentitasPrime – Belasan tahun lamanya masyarakat Desa Pinenek Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara, mengeluhkan keadaan ruas jalan penghubung Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Bitung ditengah-tengah desa tersebut.
Pasalnya jalan ditengah Desa Pinenek ini sudah berlubang dan rusak berat. Untuk mengurangi guncangan akibat lubang jalanan, kendaraan yang melintasi jalan tersebut, terpaksa jalan sambil menepi. Akibatnya debu pun berterbangan mengancam kesehatan masyarakat setempat.
Kerinduan warga akan adanya perbaikkan jalan, akhirnya terwujud juga. Di pertengahan Tahun 2019, sekira bulan Juni 2019, pekerjqan perbaikkan jalan di Kecamatan Likupang Timur hingga ke Kecamatan Ranowulu Kota Bitung pun, digelar.

Terpantau dari Desa Kijang sampai ke Kelurahan Ranowulu, dilaksanakan pekerjaan eningkatan mutu jalan berupa pelebaran.
Tentu saja pemerintah yakin bahwa dengan adanya peningkatan mutu jalan, masyarakat Kabupaten Minutdan Kota Bitung, akan bahagia dan merasa berterimakasih atas semua itu.
Namun siapa menyangka justeru kebalikan yang terjadi.
Bukan bersyukur, namun sebaliknya masyarakat Desa Pinenek malah mengkritik pedas hasil pekerjaan.pelebaran jalan itu.
“Presiden RI harus evaluasi kinerja instansi terkait, pengawas, kontraktor dan perusahaan pelaksana. Mereka sengaja menghampar tanah putih agar semua orang disini terserang sakit paru-paru,” tukas Dombo Joic Wenas, warga setempat, Minggu (1/9/2019).

Dombo Wenas

Amarah warga sudah memuncak ketika banyak balita di Desa Pinenek harus terserang flu dan batuk akibat debu berterbangan gara-gara pekerjaan proyek yang ada.
“Kami pikir setelah jalan disini di perbaiki, kami sudah terbebas dari debu. Sewaktu jalan dalam pengerasan, mereka dalam satu hari, dua kali menyirami jalan agar tidak berdebu. Eh, setelah pengaspalan selesai, sudah tak menyiram, bahu jalan malah ditaruh tanah sehingga jalan justeru menjadi semakin berdebu karena mereka menghampar tanah berwarna putih,” sembur Dombo kesal.
Dengan adanya lapilisan tanah putih dimusim kemarau dan angin kencang itu, masyarakat Desa Pinenek merasa sangat diresahkan bahkan di rugikan.
“Selain seisi rumah dipenuhi debu, pakaian jemuran saat diangkat, sudah berdebu. Belum lagi anak-anak bahkan orang dewasa yang harus terkena flu dan batuk, bahkan sakit mata karena debu-debu dari tanah yang ditaruh perusahaan pelaksana proyek amburadul ini,” ujar Dombo dengan nada kecewa.
Dombo yang juga pengurus LSM Adat Waraney Puser In Tana Kecamatan Likupang itu, mengingatkan bahwa masyarakat sudah cukup dirugikan.
“So cukup jo, so samua orang sini terancam kena panyaki. Kami minta selesaikan masalah debu ini, kalau tidak, jangan salahkan jika rakyat bereaksi. Dan sekali lagi saya katakan, perusahan dan instansi terkait dihuni orang tak profesional,” pungkas Dombo didampingi dua rekannya Stefen Rooroh dan Theo MSm.(Red)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*