Tragedi Tambang Bakan, Putera Ilongkow Minta Polda Sulut Investigasi Dugaan Pemakaian Dinamit PT JRBM

Spread the love
  • 28
    Shares
John B R Simbuang

Simbuang: “Jika Benar Pakai Dinamit, Polda Sulut Ungkap Batas penggunaan Peledak PT JRBM di Hari Kejadian Longsor Itu”

BOLMONG, IdentitasPrime – Peristiwa memilukan berupa longsor yang menimpa para penambang emas manual merenggut nyawa puluhan rakyat tak berdosa di Desa Bakan Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow, menuai empati masyarakat.
Seperti diketahui bersama, longsor yang terjadi sekitar tanggal 26 Februari 2019 silam, saat itu cuaca sedang cerah.
Empati mssyarakat pun terus berdatangan. Ketua Umum LSM Waraney Puser In Tana Toar-Lumimuut (LSM.WPITTL) John F S Pandeirot melalui John B R Simbuang menilai longsor itu dipicu bukan faktor alam, tapi ada faktor eks seperti penggunaan bahan-bahan peledak.

“Saya sangat prihatin dengan kejadian ini, sebab telah merenggut korban jiwa tidak sedikit. Makanya saya berharap adanya penelusuran akurat sehingga ditemukan sebab-musabab pemicu longsoran maut itu,” ujar aktivis berdarah Ilonglow Kotabangon itu.

Lanjut Simbuang, sudah rahasia umum yang mana keberadaan lokasi tambang rakyat Desa Bakan ada dua (2) kubu penambang.
Masing-masing adalah penambang manual (Rakyat jelata), dan PT JRBM, perusahaan pemegang saham di Bolmong itu. “Makanya kami harap PT JRBM turut bertanggungjawab atas mala petaka yang telah merenggut puluhan nyawa itu,” tukas lelaki yang berdomisili di Manado itu.
Sesuai pengakuan para penambang dan salah satu sekurity PT JRBM kepada tim wartawan beberapa waktu lalu, PT JRBM memang memakai bahan peledak jenis dinamit.
Sejumlah wartawan sudah mencoba cari informasi resmi di perusahaan, namun sangat disayangkan, melalui sekurity wartawan tidak diijinkan meliput apalagi ketemu big-bosnya.
“Dari pengakuan para penambang, dalam waktu-waktu tertentu PT JRBM memakai alat peledak, dan sudah diakui oleh salah satu sekurity. Antara lokasi tambang dan PT JRBM hanya berjarak tak sampai 200 meter. Dari ledakan itu pasti terjadi vibrasi (getaran) yang mempengaruhi penyanggah lubang tambang sehingga memicu longsor,” katanya menerka.

Menurut John Simbuang, apabila benar PT JRBM memakai Dinamit namun volume ledakan yang ditimbulkannya tidak berdampak pada peristiwa longsor itu, berarti PT JRBM dapat melangsungkan pengoperasian seperti biasanya.
“Namun apabila terbukti peledakan menjadi pemicu sehingga terjadi longsor, dan batas pemakaian peledak melampaui ukurannya, berarti perusahaan itu harus menerima konsekwensi hukum sesuai aturan yang disahkan Undang-undang NKRI,” tandasnya.(Feky Sajow)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*