(2) Diduga Sudah Kepergok Obok-obok Hutan Lindung, PT MSM/TTN Berkelit

Spread the love

Rumondor: “Sampai hari ini kami tidak tahu adanya Hutan Pramuka. yang saya tahu, disini hanya ada Hutan Wiau,”

Cheris Luntungan

MINUT, IdentitasPrime – Sepak-terjang PT MSM/TTN (Perseroan Terbatas Meares Soputan Minning/Tambang Tondano Nusajaya) di wilayah Kelurahan Pinasungkulan Kecamatan Ranowulu Kota Bitung dan Desa Pinenek Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara, kembali disorot.

Pasalnya, sesuai berita sebelumnya, beberapa waktu lalu masyarakat Kelurahan Pinasungkulan dan Desa Pinenek serta Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara, memergoki ada pekerjaan dari pihak PT MSM/TTN.

“Area pertambangan bisa saja sudah menjadi hak perusahaan karena sudah ada kontrak karya jangka panjang. Tapi yang kami pertanyakan adalah, apa boleh mengutak-atik hutan lindung seenaknya tanpa ada kordinasi alahi Ijin Lingkungan,” tukas Ketua Umum Aliansi Masyarakat Araren (AMAN), Cheris Luntungan, Kamis (13/6).

Dirinya juga tidak lupa peristiwa banjir bandang beberapa tahun silam sehingga Desa Pinenek dan Desa Rondor Pantai tergenang gara-gara diduga kuat Kuala Araren dipindahkan untuk pertama kalinya,” cetus Cheris.

Aktivis adat berdarah Pinasungkulan-Pinenek ini mengecam keras setiap praktik pertambangan selama itu melawan pemerintah dan mengancam stabilitas lingkungan hidup.
“Berbohong itu hak mereka, belum atau tidak mengantongi ijin namun sudah berani menjarah Hutan Lindung Pramuka, berarti pantas kalau rakyat melawan,” semburnya.

Lanjut Cheris, Departemen Kehutanan (Dephut) menilai bahwa pada saat ini terdapat 22 lokasi ijin pertambangan yang tumpang tindih dengan kawasan hutan lindung.
“Sepengetahuan kami, Dari 22 lokasi pertambangan, baru 18 lokasi yang lengkap datanya. Sementara, 4 perusahaan lainnya belum ada data koordinatnya, sehingga belum bisa ditelaah oleh Dephut.

Keempat perusahaan itu adalah:
1. PT Westralian Atan Minerals di Kalimantan timur,
2. PT Kelian Equatorial Mining di Kalimantan Timur,
3. PT Meares Soputan Mining di Sulawesi Utara,
4. PT Arutmin Indonesia di Kalimantan Selatan,” beber aktivis yang gemar membaca itu.

Pihak perusahan terkait, katanya lagi, sulit berkelit dengan dugaan penjarahan dan eksplorasi area Hutan Pramuka, mengingat warga kerap memergoki adanya pekerjaan ditempat itu.
“Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan sudah mengingatkan, memang dalam UU Kehutanan dinyatakan pada kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan pola pertambangan terbuka (Pasal 38 ayat (4). “Kalau ada yang melanggar itu adalah tindak pidana,” pungkas Sigar.

Sementara Herry Rumondor selaku Superintenden Publik relation ketika dikonfirmasi wartawan, membantah adanya pekerjaan tambang di area Hutan Lindung.
“Selama ini tidak ada eksplorasi di bagian hutan. Sampai hari ini kami tidak tahu adanya Hutan Pramuka. yang saya tahu, disini hanya ada Hutan Wiau,” ujar pria paruh baya yang akrab disapa Inyo itu.
Lanjut dia, intinya setiap melakukan pekerjaan perusahan selalu dibarengi dengan ijin. PT MSM/TTN selalu taat hukum dan aturan.
“Jadi, kalau ada berita tentang PT MSM/TTN melakukan eksplorasi di Hutan Lindung, itu tidak benar,” tandas Rumondor.(Meikel)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*