Ada Belasan “Muhammad Zohri” Minut Berlaga Tanpa Uluran Tangan Pemerintah

Spread the love
  • 17
    Shares

Pray J C Ismail Atlet Bridge Termuda Dari Minut Ikut Lomba Bridge Nasional di Batam

MINUT, IdentitasPrime – Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Pemkab Minut), sekali lagi harus ekstra sensitif dalam membina bakat anak usia dini di berbagai lini.
Pasalnya sejak dulu, Tanah Tonsea (suku asli Kabupaten Minut) memiliki talenta berupa darah atlet berestasi sejak masih usia dini, sampai usia dewasa.
Tidak sedikit atlet dan artis serta generasi muda berprestasi asal Minut yang harus berkiprah dengan membawa nama daerah lain karena ketiadaan anggaran maupun fasilitas dan sarana pendukung.
Ketika masyarakat dunia dikagetkan oleh seorang Muhammad Zohri pelari asal Lombok Utara NTB yang mampu menjuarai lari di Finlandia U-20.
Pemuda berprestasi ini begitu bangga mengangkat nama NKRI dengan seorang diri mengibarkan bendera merah-putih, padahal hatinya menangis, sebab bendera yang dikibarkannya sebetulnya adalah putih-merah karena bendera negara POLANDIA.
Begitu pula nasib Galang Hendra asal DIY di Chech Republik juara 1 balap motor yang meraih juara dunia namun tidak disponsori negara kebanggaanya.

Apakah Kabupaten Minut juga harus kecolongan lagi dengan kejadian seperti diatas. Semoga tidak, sebab para wartawan Biro Minut kembali mendapati berita tak sedap, terkait atlet berprestasi yang tidak didukung Pemkab Minut.
Kamis (12/7), masyarakat Kecamatan Kalawat dibuat terharu oleh berita menghebohkan, dimana seorang gadis kecil usia 6 tahun Pray Justitia Caesara Ismail, siswi kelas 2 SD Manado Independent School (MIS) Kecamatan Kalawat, menghiasi lembaran nasional sebagai peserta termuda.

“Kejuaraan Bridge Nasional Tingkat Pelajar Mahasiswa dan Yunior” tanggal 9-15 Juli 2018 di Golden View Hotel, Batam Provinsi Riau.
Terinformasi, yang bertolak ke Batam sebagai peserta lomba Bridge tersebut, bukan hanya Pray Justitia, namun ada delapan (8) siswa asal Minut, turut berlaga dalam ajang lomba bergengsi antar pelajar itu.
Inilah sembilan (9) nama peserta Bridge asal Minut itu:
1. Indah Bogar (15) kelas 3 SMP,
2. Karen Katuuk (15) kelas 3 SMP,
3. Joshua Pondaag (15) kelas 3 SMP
4. Gibran Binilang (16) kelas 1 SMA
5. Betrand Barahama (10) kelas 1 SMP
6. Putra Nurhamidin (10) kelas 6 SD
7. Georgy Wowiling (10) kelas 6 SD
8. Jose Gimon (9) kelas 5 SD.
9. Pray Justitia Caesara Ismail (6) kelas 2 SD MIS, dengan pembina/pelatih (Coach) Koutje Limpele.

Ruddy Ismail SH ayah Pray Ismail, mengaku sangat bangga sekaligus terharu ketika puteri bungsunya terpilih ke ajang bergengsi ini.
“Sebagai orangtua tentu bangga karena putri kami bisa tampil sebagai peserta termuda,” katanya.
Lanjut alumni Fakultas Hukum Unsrat itu (Ruddy red-), hal ini menunjukkan kalau Minahasa Utara dapat menciptakan pemain-pemain muda yang punya potensi dan tampil di iven nasional. Saya sangat bangga sekaligus was-was, sebab anak saya masih kecil, namun sebagai orangtua, saya dan isteri saya sepakat, tidak

Ini juga tak lepas dari binaan ketua Bridge Minahasa Utara Denny Wowiling,” ujar Ismail.
Mantan aktivis Minut ini juga amengaku sangat optimis olahraga bridge di Minahasa Utara kedepannya bisa mengutus atlet sampai ke ajang internasional jika ada perhatian pemerintah untuk biaya pembinaan dan akomodasi atlet.
“Ini menjadi tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan khususnya pemerintah. Dalam bentuk biaya pembinaan dan akomodasi atlet,” ujar Ruddy Ismail.
Terpisah, Wakil Ketua DPRD Minut, Drs Denny Ronny Wowiling MSi ketika dimintai pendapat saat sedang santai dirumah kopi K7 Kalawat, sebagai orang Minut, ia mengaku sangat bangga oleh kemampuan dan bakat ke-9 putera-puteri Minut berkiprah di ajang bergengsi tingkat nasional ini.
“Atlet dari daerah (kabupaten/kota) lain saja, asal dia orang Sulut, saya bangga. Apalagi anak daerah kita sendiri (Minut),” seru politisi senior yang juga menjabat sebagai Ketua Bridge Minahasa Utara itu.
Lanjut dikatakan Wowiling, selain ke-9 atlet belia itu, ternyata ada pula sekitar 6 peserta lain juga yang berangkat membawa misi Minut dan Sulut, dengan biaya prihatin.
“Memang sangat memprihatinkan, namun kegigihan para peserta, telah mendorong semua yang terkait untuk menggalang dana, walau sangat minim yang penting bisa tiba dan ikut serta,” tandas politisi senior asal Kalawat itu.
Sampai berita ini naik, terinformasi ara utusan Minut ini masuk ke putaran delapan (8) besar. (7o)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*