Astaga, Sudah Didamaikan Hukumtua, Putera Aktivis Sulut Diduga Malah Dianiaya Tim Polisi Rayon Polda Sulut

Spread the love
  • 44
    Shares

Palantung: “Sebagai mitra Polisi, kami harap Pak Kapolda Sulut pecat anakbuahnya yang tak berperi kemanusiaan. Kalau tidak, kami akan bawa kasus ini ke Komnas HAM dan Kompolnas”

MANADO, IdentitasPrime — Kalau preman bergaya polisi alias polisi gadungan, di Sulawesi Utara sangat jarang ada kasus seperti itu. Namun sebaliknya, kalau kasus polisi berjiwa preman, di Sulut masih lumayan sering didapati.
Miris memang kalau seorang aparat polisi sebagai pengayom dan pelindung masyarakat, malah menjadi seorang preman yang menganiaya kaum awam sehingga korban mengalami luka dan trauma.

Kejadian di Desa Koha, diawali terjadinya perkelahian dua pemuda. Oleh pemerintah setempat, kasus ini dapat ditangani pemerintah desa (Hukum tua) Desa Koha.
Kedua belah pihak sepakat berdamai dan membuat peryataan, tidak akan membuat masalah, sebab sudah diselesaikan (berdamai),disaksikan oleh kurang lebih 10 Anggota Polisi Patroli Rayon.

Angga Kurnia Palantung, salah satu dari dua pemuda bertikai menjelaskan, usai didamaikan Hukumtua ia hendak pulang naik sepeda motor bersama temannya.
Namun salah seorang anggota Polisi Rayon menawarkan akan mengantarnya sampai ke rumah.
Karena menghormati etiket baik dari aparat polisi, Angga berpindah digonceng Polisi Rayon tersebut.
“Tiba didepan rumah, saya minta turun, tapi malah dia tancap gas bersama tim-nya sambil mengatakan badiang jo, ngana iko dengan torang ngana,” ujar Angga.Tak berdaya, Angga pasrah digonceng polisi itu.
Dari Desa Koha mereka membawanya ke pantai Malalayang dekat SPBU. “Saya disuruh turun ke pantai, lalu mereka memukul dan menampar, menendang saya. Setelah itu mereka menyuruh saya marayap di beton pemecah ombak,” urai Angga.

Tak sampai disitu saja, menurut Angga, dirinya disuruh berjalan pakai lutut dan sementara berjalan ia dihujani pukulan.“Mereka paksa saya rebah di air, hingga punggung saya tertusuk Buluh-babi), hingga saya berteriak kesakitan namun mereka katakan sakit munafik. Mereka sempat mencabut duri buluh babi dari belakang tubuh saya, lalu kembali memukul saya dan menyirami saya dengan air kencing kemudian menyuruh saya pulang sambil menggancam agar saya tidak di beritahu orang tua saya,” jelas Angga sembari mengutip ucapan polisi cs itu, “Pulang jo ngana, awas ngana bilang orang atau kase tau pa ngn pe orang tua kalu torang ada pukul. Berani ngana bilang, torang dapa ulang pa nngana, torang beking patah-patah pa ngana”.

Tiba dirumah, merasa sudah terlalu sakit di aniaya oknum polisi cs, Angga menjadi nekat, ia menceritakan perlakuan yang dialaminya kepada Steny Palantung ayah kandungnya.
Tak terima anainya diperlakukan seperti itu, Steny kemudian melapor ke Propam Polresta Manado pada Senin (31/9).
“Orangtua mana rela anaknya diperlakukan seperti binatang oleh aparat polisi. Untuk itu sebagai mitra yang baik, saya berharap Pak Kapolda Sulut harus bertindak tegas kepada anggota polisi yang telah menganiya anak saya,” pinta Steny yang kesehariannya berprofesi sebagai aktivis Sulut Coruption Watch (SCW) itu.

Laporan di Propam Polresta Manado, lanjut Palantung, sudah berjalan lima (5) hari. Namun pihaknya percaya propam akan bertindak adil.
“Saat saya konfirmasi, penyidik propam bilang akan segera melimpahkan berkas ke Propam Polda Sulut, sebab para terlapor adalah Anggota Polisi Rayon Polda Sulut. Sebagai mitra Polisi, kami harap Pak Kapolda Sulut pecat anak buahnya yang tak berperi kemanusiaan. Kalau tidak, kami akan bawa kasus ini ke Komnas HAM dan Kompolnas,” tandas Steny Palantung. (RED)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*