Diduga, Demi Bisnis Kotor Mafia Tanah di Minut (Tahun 2015), Anggota Kodim 1310-06/Bitung, Jadi Korban Pemecatan (1)

Spread the love

Kopda Marthen: “Demi Tuhan dan Demi Jiwa Corsa NKRI Harga Mati, saya tidak pernah lakukan penyerobotan…

MINUT, IdentitasPrime – Bisnis permainan kotor mafia tanah diwilayah Kabupaten Minahasa Utara harus mendapat perhatian khusus. Jangan coba-coba dilawan jika kita tidak punya kekuatan finansial dan keuangan yang mapan, karena disinyalir, jaring laba-laba mereka sudah menyebar sampai ke instansi dan ranah hukum.
Jangankan bersaing sebagai sesama pebisnis tanah, sebagai pemilik tanah pun bisa-bisa tumbang menghadapi para mafia tanah itu.

Kasus seperti ini terjadi pada Kopral Dua (Kopda) Marthen Sula (46), yang kesehariannya berprofesi sebagai Anggota TNI di Kodim 1310-06/Bitung-Koramil Airmadidi.

Gara-gara dikuasakan menjaga lahan milik Yohanis Tampa (keluarga Tampa), pria beranak 2 asal Nusa Tenggara Timur ini harus berurusan hukum sampai dipecat dari kesatuannya sebagai Anggota TNI.

Begini kisahnya….. Maret 2015 Kopda Marthen Sula dipanggil DENPOM Manado atas Laporan Penyerobotan Tanah dan Perbuatan Tak Menyenangkan.
“Saya dilaporkan oleh Oktavianus Sandy Wurangian dan Ibu Indrawati Ghani,” katanya Rabu (06/06) kepada sejumlah wartawan.

Dikisahkan Kopda Marthen, ia memang mendapat surat panggilan dari Denpom Manado pada bulan Maret 2015. Namun tidak pernah di BAP oleh penyidik, sebab dirinya menolak keras disebut sebagai Tersangka.

“Saya dilapor menyerobot tanah milik dari Octavianus Shandy Wurangian dan Indrawati Ghani, di dua tempat berbeda. Ada apa dibalik semua ini, kan tanah yang dimaksud milik Wurangian itu bukan milik mereka sebab, riwayat tanah itu adalah milik dari Yohanis Tampa (keluarga Tampa), disukung banyak bukti termasuk Register Desa,” sebutnya.

Lanjut Kopda Marthen, setahun kemudian (Mei 2016), tiba-tiba ia menerima surat panggilan Mahkamah Militer (Mahmil) 317 Manado, tentang penyerobotonan dan perbuatan tidak menyenangkan.

Menariknya dalam 2 surat panggilan ditempat berbeda, tapi dalam waktu bersamaan dan dakwaan, tuntutan dan dakwaan yang sama.
Dalam pemanggilan itu Marthen merasa banyak mendapat perlakuan tak adil, salah satunya proses ia ditahan.
Pasalnya, dari dua (2) laporan itu, Marthen didakwa Pasal 167 KUHP, tentang penyerobotan tanah.
“Saya merasa heran, penyerobotan tanah siapa dan perasaan siapa yang saya buat tidak senang,” katanya bingung.
Anehnya lagi, baru mendapat surat panggilan sebagai Tersangka, konon gajinya (gaji Triwulan red-) sebagai Babinsa Desa Watutumow II sudah diberhentikan.
“Selama enam (6) bulan jalani proses hukum, saya 23 kali disidang. Demi Tuhan dan Demi Jiwa Corsa NKRI Harga Mati, saya tidak pernah lakukan penyerobotan dan perbuatan tak menyenangkan terhadap sesama manusia,” ujarnya tegar.

Agustus-Desember 2016, kenang Kopda Marthen, ia sudah ditahan di Rutan Malendeng. Di Bulan Desember 2016 ia dipindah ke ruang Tahanan Denpom, selanjutnya Januari 2017 pindah ke lapas Tuminting (Sumompo) sampai 11 Oktober 2017.
Setelah 1 tahun 2 bulan menjalani hukuman penjara, akhirnya Kopda Marthen Sula menghirup udara segar sebagai seorang non TNI alias sipil. Namun dengan gigih kembali ia menjaga lahan sengketa antara Keluarga Tampa vs Shandy Wurangian.
“Apa yang saya ceritakan diatas adalah perlakuan tak adil yang menimpa saya. Sementara ini saya masih berdiam diri menanti sampai maslah lahan ini selesai. Sesudah itu saya akan lakukan upaya hukum sampai ke MAHMILUB dan Panglima TNI,” ujarnya.
Sula juga berharap berita tentang kronologi permainan kotor mafia tanah di Minut ini cukup hanya menimpa dirinya saja.
“Biarlah ini hanya terjadi pada saya, jangan kepada Prajurit TNI lainnya yang sudah setia mengabdi, namun dijadikan korban. Semoga para atasan saya bisa membaca semua yang saya ceritakan ini, sebab saya tidak pernah melawan hukum, apalagi mengkhianati institusi saya sebagai Anggota TNI. Salam hormat saya kepada Bapak Pangdam, Bapak Danrem dan Bapak Dandim yang saya kasihi, saya harap saya diberikan hak untuk ajukan PK dan upaya hukum nanti,” tandas Marthen Sula.(Noval/Allen)…

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*