DIDUGA MENUNGGAK BIAYA LISTRIK, PEMKOT KOTAMOBAGU TERANCAM GELAP GULITA

Spread the love
  • 7
    Shares

KOTAMOBAGU, IdentitasPrime – Menurut Humas PT PLN Persero Wilayah Bolmong Raya Leo Manurung, Kamis (19/07) tunggakan listrik Pemkot Kotamobagu sudah mencapai milyaran Rupiah namun ia enggan menyebut, berapa jumlahnya.
“Untuk itu, PT PLN Bolmong Raya bersama PT PLN Persero Wilayah Manado akan menemui Pemerintah Kota Kotamobagu, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman yang saat ini dipimpin oleh Drs Imran Amon,”ujarnya.
Menurut Manurung mereka akan berkonsultasi terkait dengan solusi terhadap tunggakan listrik yang belum juga terbayarkan, sehingga pihaknya akan bersama – sama dengan PT PLN Persero Wilayah Manado untuk membicarakan hal ini.
“Apakah akan menjadi gelap – gelapan di Kotamobagu seperti yang pernah terjadi di Riau,”tuturnya penuh arti.
Lanjut Manurung, pihak Pemkot belum juga merealisasi tagihan listrik maka pihak PT PLN Persero Bolmong Raya akan menyerahkan saja ke PT PLN Wilayah Manado untuk melakukan tindakan.
“Yang penting pihak PT PLN Persero Bolmong Raya sudah berupaya dan juga sudah membantu Pemkot Kotamobagu selama ini,” bebernya.
Beberapa waktu lalu PT PLN Persero sudah menandatangani bersama MOU Surat Pengakuan Hutang (PKH) dengan Pemkot Kotamobagu terkait tagihan listrik yang belum terbayarkan.
“MOU yang ditandatangani itu berkaitan dengan rencana pembayaran tagihan listrik oleh Pemkot Kotamobagu lewat APBD Perubahan. Sehingga muda – mudahan tagihan listrik dari pemkot Kotamobagu akan segera dibayar,” pungkas Manurung.
Kadis Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Kota Kotamobagu Drs Imran Amon kepada www.identitasprime.com tidak berada ditempat. Sayangnya Sekretaris Anki Mokoginta walau ada ditempat namun terkesan menghindar dengan alasan yang disampaikan oleh pegawai piket.
“Tunggu ya, tunggu sebentar ibu sedang makan,” sebut piket.
Beberapa saat kemudian, sekretaris keluar namun hanya diam saja hendak kembali memasuki ruangan lagi. “Kami minta waktu 1 menit saja untuk konfirmasi, namun sekretaris minta ditunggu karena lagi sibuk,” jelas salah satu wartawan kepada media ini.
Wartawan sempat menunggu lagi didepan ruangan, sesuai perkataan si sekretaris, namun sikap sekretaris tersebut seolah tak menghargai itikad baik wartawan.
“Harusnya sebagai pejabat, sekretaris itu tahu apa maksud kedatangaj kami dan beri kami waktu. Kami tak bisa menunggu terlalu lama karena kami juga punya batas waktu,” pungkas wartawan sambil berlalu dari dinas tersebut.(Feki Sajow)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*