Diduga Proyek Bermasalah, PT Wika Coba Peralat Media Lewat Press Rilis Siluman

Spread the love
  • 35
    Shares

Preman Beraksi Halangi Wartawan Meliput

MINUT, IdentitasPrime – Peristiwa ambruknya jembatan Megaproyek Tol Manado – Bitung, di Desa Tumaluntung, Kecamatan Kauditan Minahasa Utara, Sulawesi Utara, telah mencoreng kedamaian dan hak masyarakat adat Tounsea di Minut.

Kendati yang heboh adalah nasib dua orang pekerja asal Jawa tewas di lokasi proyek akibat tertimbun bongkahan material jalan Tol dan besi konstruksi jalan, yang harus diketahui masyarakat umum yaitu, ada 18 pekerja lainnya korban serupa.
Walau mereka tidak sampai kehilangan nyawa, namun ke-delapanbelas pekerja itu juga mengalami luka-uka berat seperti patah tulang, dan ada juga yang mengalami luka ringan. Menindaklanjuti hal itu, PT WIKA dan masyarakat langsung mengevakuasi para korban. Mereka di rawat di dua rumah sakit terdekat yaitu, Rumah Sakit Lembean, Rumah sakit Walanda maramis.

Terkait kondisi kedelapan belas pekerja yang ikut jadi korban, PT WIKA mengambil sikap bungkam dan tidak mau memberikan keterangan apapun pada media.
Diduga kuat, pasca kejadian, PT WIKa berusaha menggiring pemberitaan lewat Pers-release siluman, melalui facebook.
Di semua rumah sakit, yang merawat para korban, diduga telah dipasang preman yang mengaku sebagai orang PT WIKA yang bertugas mengusir wartawan yang datang melihat kondisi para korban.

Di Ruma sakit Hermana Lembean Minahasa Utara, ada 8 orang pekerja korban runtuhan jalan tol Tumalungtung.Saat hendak meliput, Pers dicegat, dilarang mendekati dan mengecek kondisi korban.

“Maaf, kami diprintahkan untuk mengusir wartawan yang hendak meliput di rumah sakit rumah sakit tempat para korban dirawat,” tutur salah satu preman berpakaian biasa, namun wahanya ditutup setengah dengan kain, Kamis (19/4) siang.

Sambil menyebut tupoksi, para preman langsung mengusir para awak media saat para awak media hendak mengecek dari jauh kondisi para korban.
Kendati terjadi halangan, namun wartawan sempat melihat di gang rumah sakit, ada empat korban yang duduk santai sambil memainkan telepon gengam mereka, dan nampak sehat.
Namun karena melihat media sudah ada di dalam rumah sakit si preman segera mendekati para pekerja yang terlihat mulai sehat itu, dan memaksa mereka masuk kembali ke ruangan perawatan masing masing.

Para awak media yang dihalangi itu mempertanyakan kehadiran preman yang menjaga di rumah sakit itu, namun pihak rumah sakit lewat juru bicaranya Dicky Ering, mengaku tidak tau apa-apa mengenai kehadiran preman itu di rumah sakit mereka.

“Pak adakah pelarangan dan instruksi ke rumah sakit dari PT Wika? ooh kalo dari PT wika saya tidak tau ya. Kalo dari pihak mereka dengan torang saya tidak tau ya, nda ada kayaknya,” jelas Ering dengan nada terbata bata.

Terkait adanya preman sewaan yang mengatasnamakan PT WIKA, dan terkait penyidikan ambruknya jalan tol, PT WIKA terkesan bungkam seribu bahasa untuk diwawancara.

Manager area bernama Bayu, yang ketika ditemui di kantornya di lokasi proyek Desa Tumaluntung, menolak di wawancara.
“Gimana apakah sudah ada petunjuk dari PT Wika? blom, blom ada surat gitu, dan apakah PT WIKA sendiri sudah ada, lah koq jadi wawancara. Saya tidak mau diwawancara, sudah ya,” jawab lelaki bertubuh gemuk itu berlalu meninggalkan awak media di depan kantornya.

Sampai saat ini PT WIKA bungkam dan tidak berkenan mempublis penyebab ambruknya jalan tol yang diduga proyek asal-asalan.
Perlu kita ketahui, proyek ini sendiri dibuat pada 16 april 2018, namun sehari setelah pengerjaan, pada hari kedua yaitu 17 April 2018 pengerjaan jalan tol ini ambruk dan menimpa para pekerja dan menyebabkan dua pekerja tewas.
Kapolda Sulut sendiri kemarin telah meminta Kapolri menurunkan tim Labfor untuk mengidentifikasi sebab-musabab malapetaka itu.(Allen/Novaluber)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*