Diduga Tanpa Sosialisasi Dan Survey, Proyek Tol Rusak Irigasi Alam Ke Sawah Warga Airmadidi

Spread the love
  • 8
    Shares

GMBI: “Kalau sampai tidak ada solusi, kami akan demo sampai ke Istana Kepresidenan”

MINUT, IdentitasPrime – Entah benar, entah bohong, disaat pemerintah mengumandangkan bahasa “Pembangunan demi kesejahteraan rakyat” tapi nyatanya, saat pembangunan itu digelar, rakyat justeru mengalami kerugian, ternyata pemerintah harus buka mata juga terhadap apa yang terjadi di lapangan, tak seindah janji mereka.
Di Kecamatan Airmadidi Minut, kira-kira di kilometer 90 sekian, masyarakat petani diresahkan oleh kehadiran megaproyek jalan tol, gara-gara alih fungsi lahan yang mengancam keseimbangan alam, tanpa di sosialisasi terlebih dahulu.
“Mungkin ada sosialisasi, tapi hanya yang dilibatkan hanya pemilik lahan yang tanahnya kena ganti rugi saja. Sedangkan kami, oke tanah kami tidak kena pembebasan lahan, tapi lahan kami kenapa harus dikorbankan karena pembangunan jalan tol,” keluh Boy Kamagi warga Kelurahan Sarongsong Satu Lingkungan II Airmadidi Senin (11/12) saat ditemui di lahan perkebunannya.
Perlu diketahui, lahan perkebunan milik Boy Kamagi memang tidak terkena proyek jalan tol, tapi satu hal yang harus diperhatikan, keberadaan sungai kecil yang menuju ke lahan sawah, telaga dan peternakan warga, sudah diputus.
Sungai kecil tersebut menurut Boy Kamagi, sudah terbentuk secara alami, dan bisa mensuplay air untuk kebutuhaan masyarakat setempat. “Kalau sungai ini ditutup atau dialihkan ke tempat lain, bagaimana nasib kami sementara kebanyakan dari kami hanya bersandar pada hasil sawah, ikan air tawar dan peternakan diatas lahan kami,” ujar Kamagi.
“Kami bukan melawan kebijakan pemerintah, tapi berikan solusi seperti perbaikan sungai kecil atau sumur bor atau apa saja suplay air, agar bisa mengaliri sawah, telaga dan peternakan kami. Dengan begitu pemerintah tidak menyakiti masyarakat,” pungkas Kamagi.

Menyikapi hal itu, Ketua Lembaga Sosial Masyarakat Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (LSM GMBI) Distrik Minahasa Utara, Howard Pengky Marius SE mengklaim, sangat mendukung proyek pemerintah pusat seperti proyek jalan tol yang sedang dikerjakan di Kabupaten Minahasa Utara.
Kebijakan Pak Gubernur Olly Dondokambey dan Ibu Bupati Vonnie Panambunan dengan meminta masyarakat beri kemudahan bagi prosesi pekerjaan tol itu, harus di apresiasi.
“Akan tetapi, pemerintah pusat juga harus memperhatikan dampak yang dialami oleh masyarakat akibat pekerjaan jalan tol ini,” ujar Howard.

Dampak yang ditimbukkan oleh pekerjaan jalan tol, kata Marius juga, jangan sampai membunuh mata pencaharian warga seperti sawah, telaga, dan peternakan.
“Sebagai masyarakat dan warganegara RI yang berhak mendapat perlindundungan negara, kami minta BPJN XV tindaklanjuti keluhan warga agar tak ada yang dirugikan. Kalau tidak di indahkan, kami akan gelar unjuk rasa ke BPJN. Dan kalau tak digubris juga, kami akan lanjutkan demo ke pusat bahkan ke Istana Kepresidenan,” tandas alumni STIE Pioneer Angkatan ke-2 itu.

Sementara, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melalui Riel Mantik selaku Kabalai BPJN XV, dan Balai Wayah Sungai (BWS) saat dihubungi via nomor Whats-app nya (nomor disamarkan 08128302XXX), meminta warga untuk bersabar.
“Karena secara alami, maka sungai itu tidak akan dihilangkan. Kita sama Balai Wilayah Sumgai (BWS), sudah turun lapangan dua (2) bulan bersama Tim ahli dari BWS. Sedang dipersiapkan kajian sebagai rekomtek untuk persetujauan Pak Menteri,” katanya singkat.(Jo)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*