Diduga UNIMA Kelabui Gubernur Sulut, Dengan Mewisuda Mahasiswi FIP Ilegal di Sutanraja

Spread the love
  • 28
    Shares

Aroma Pungli Merebak, Sudah Setor Jutaan Rupiah, 137 Mahasiswi FIP Unima Diduga Tak Miliki Ijasah Dan Nilai

MINAHASA, IdentitasPrime – Rasa malu pada diri sendiri, malu kepada keluarga dan kepada orang banyak, memaksa sebut saja Melati (nama samaran red-), mencak-mencak dihadapan rekan-rekannya disalah satu rumah makan di seberang jalan Sutanraja Hotel di Kecamataan Kalawat Minahasa Utara, usai di wisuda oleh pihak UNIMA pada (6/03) silam.

Saat melampiaskan kekesalan bersama teman-temanya dari kelas Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP).
Melati cs tidak menyadari kalau disalah satu meja makan ada beberapa wartawan sedang memperhatikan ulah mereka.

Dengan suara lantang Melati menceracau tentang biaya yang disetorkan ke pihak kampus, ternyata belum menjamin ia dapat memegang ijasah berisi daftar nilai hasil ujiannya.

“Saya kaget, karena berkas yang saya terima, tak ada tulisan apa-apa alias kertas kosong, tanpa pemberitahuan apa-apa. Apa leh itu kurang, so ba tanda tangan itu Index Prestasi Kumulatif (IPK) deng surat pengesahan satu juta, pa Dekan lima ratus ribu deng Kepala Program Studi (Kaprodi) lima ratus ribu. Kalu nda ada doi, yanda mo dapa tanda tangan,” katanya Selasa (13/03/2018).

Menurut mahasiswi itu, salah satu rekan mereka bertugas mengumpulkan uang untuk diserahkan kepada dosen berinisial SK alias Syul.

Bukan itu saja yang mereka berikan. Masih ada juga uang sebesar enam juta untuk ujian yang diberikan si pengumpul kepada Kaprodi.

“Buka-bukaan jo skarang. Ujian minta enam juta kase, kurang apa le nda mo kase pa dorang.. (Buka-bukaan saja sekarang. Ada uang enam juta yang diberikan untuk Ujian,” sembur mahasiswi itu, dibenarkan rekan-rekannya.

Menariknya, dari sekian mereka yang di wisuda di Sutanraja Hotel di saksikan Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey SE, ada tujuh (7) mahasiswi yang langsung terima ijasah berisi daftar nilai.
“Malu dan sakit hati, saya terus menanyakan ke teman-teman lain, eh ternyata nasib kami sama juga, belum punya nilai hasil ujian,” seru beberapa mahasiswi.
Penasaran dengan hal itu, mereka pun menghubungi Kaprodi SK mencari kepastian tentang ijasahnya.

“Kaprodi bilang, bersabar saja sedikit, selambat-lambatnya satu minggu lagi, nilai kalian sudah ada. Dan sampai hari ini, nilai kami belum ada, setiap kami bertanya, jawabannya tinggal tunggu tanda tangan rektor,” ucap mahasiswi lain meniru penjelasan Kaprodi.

Terpisah, Kepala Program Studi (Kaprodi) berinisial SK alias Syul saat dikonfirmasi, membantah jika dirinya telah melakukan Pungli. “Saya tidak pernah menerima pungutan apapun,” semburnya jengkel.
Sudah puluhan tahun menjadi dosen, kata Syul, belum pernah satu kalipun ia menerima uang dari mahasiswa secara langsung.

“Saya berani sumpah, saya tak pernah menerima uang secara langsung. Kalau menyangkut nilai mereka, silahkan tanya sendiri kepada Dekan dan PR Satu, sebab saya hanya menangani urusan eksternal saja,” tandasnya.
Sangat disayangkan sampai berita ini terbit, Dekan dan PR Satu Unima belum dapat dikonfirmasi.(Toar)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*