Festival Maengket Dispar Minut Digelar di Restoran Gunung Kekewang

Spread the love
  • 12
    Shares

Generasi Muda Harus Sambut Tongkat Estafet

MINUT, IdentitasPrime – Bertemapat di Restoran Gunung Kekewang Desa Tetey Kecamatan Dimemebe, Dinas Pariwisata Minahasa Utara (Dispar Minut), menyelenggarakan Festival Maengket berbahasa Tonsea (bahasa Suku Asli Minahasa Utara), Selasa (11/12).

Kadispar (Kepala Dinas Pariwisata), dr Sandra Rotie melalui Kepala Seksi Bidang Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya, Mersi Sigarlaki SE membenarkan penyelenggaraan festival Maengket Tonsea tersebut.
“Ini digelar dalam rangka mendukung visi dan misi Bupati Ibu Bupati Vonnie Aneke Panambunan yang m3ngedepankan sektor pariwisata dan kebudayaan. Festival Maengket ini merupakan Program Pelestarian nilai-nilai budaya Tanah Tonsea,” tuturnya.

Lanjut dikatakan Mersi Sigarlaki, Festival Maengket kali ini terbilang berbeda dari berbagai festival yang pernah digelar Dispar Minut sebelumnya.
“Selain tampil berbeda, festival kali ini diikuti sanggar-sanggar unggulan dipandu narasumber Joseph Weku (Pemerhati Budaya dan pelatih Maengket) senior. Ini beda dengan lomba biasanya, karena panitia bukan mengedepnkan siapa juara satu, dua maupun tiga,” urai Mersi.F

Lebih jauh dikatakannya, usai Tari Maengket dilombakan, peserta langsung mempresentasikan jati diri dan legenda dari Tari Maengket yang dibawakan oleh kelompok masing-masing.

“Sumber serta asal-muasal, riwayat, sampai makna daripada Tarian dan Bahasa Tonsea ini harus mampu diterjemahkan , kalau tidak, kian hari generasi penerus kita kian kabur dalam mengenal lebih dalam aneka Tari Maengket yang diperlombakan tanpa mau tahu, apa bahasa, tarian dan makna dari kata-kata yang tertuang didalamnya. Apa sudah benar atau salah, mengingat ada beberapa versi seperti Maengket naik rumah baru (Maramba) serta Lalayaan, sudah keliru dilakukan pada wakru dan temoat yang salah,,” tandas Mersi Sigarlaki.

Adapun dalam pelaksaan Festival Maengket kegiatan didukung penuh oleh Sekretaris Dispar Dra Sri Heyber, Kabid Budaya Gerald Katili, Kabid Pemasaran Jansen, Armien Repi Budayawan senior yang sudah malang melintang ke segala pelosok, serta Herry Welang budayawan berdarah Tombulu yang sekarang berdomisili di Desa Kuwil Kecamatan Kalawat.

Festival ini juga mayoritas mengedepankan dan menampilkan Sastra Tonsea, kecui 1 peserta berbahasa Tombulu, yaitu budayawan dari Woloan (Tomohon) sebagai pembanding.
Turut hadir juga Tim Kesenian Provinsi, dan “Tim Kesenian Sanggar Luri Rendeman Minawerot Kaasar dan Kaima” yang membawakan tarian Lili Royor (Perempuan/ Keke cantik tersayang yang sedang menghibur banyak orang).

“Lili Royor harus diluruskan pula sesuai pesan para Lansia. Lili Royor ini didendangkan para gadis belia yang cantik. Namun sejak mereka masih gadis belia, sampai sekarang sudah Lansia, mereka sudah nyaris tak punya generasi penerus. Dalam arti kata, karena sekarang yang tampil dalam atraksi justeru hanya para lansia, maka kini para generasi muda wajib menyambut Tongkat Estafet sebagai Lili Royor muda belia,” pungkas Sigarlaki, seraya menambahkan, kenapa digelar di restoran Gunung Kekewang, karena Restoran Gunung Kekewang juga merupakan salah satu pendongrak PAD melalui Dinas Pariwisata, sebab restoran ini dikenai pajak, dan juga milik salah satu infesor Sulut asal desa ini.”

Perlu diketahui, pserta ada 12 group atau sanggar. KE 12 sanggar Ini sudah difilter melalui proses seleksi akurat, terutama didalam penggunaan Bahasa Tonseaa sehingga, ke 12 peserta ini adalah para unggulan tentunya.(Noval)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*