Ingkari Kesepakatan, Diduga Pemprov Sulut Dan Pemerintah Desa Main Petak Umpet Hindari Para Ormas Adat

Spread the love
  • 41
    Shares

Lengkong Sesalkan Pembohongan Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Kesepakatan Relokasi Waruga

MINUT, IdentitasPrime – Kesepakatan hasil pertemuan antara beberapa perwakilan Ormas Adat Minahasa Sulawesi Utara yang di pimpin oleh Asisten I Pemprov Sulut, Drs Edison Humiang didampingi Kadis Kebudayaan Provinsi Sulut yang digelar di kantor Balai Sungai PPK Waduk Kawangkoan – Kuwil pada Sabtu 28 Juli 2018, tampak akan membawa angin segar bagi relokasi situs-situs budaya itu.

Menutup rapat tersebut, Humiang menetapkan hsri Rabu 1 Agustus 2018 adalah rapat lanjutan relokasi Waruga. Menyikapi itu, masyarakat adat dengan mengenakan masing-masing atribut, dstang berbondong-bondong untuk mengetahui nasib dari waruga-waruga itu.
Seperti diketahui bersama, kehadiran massa adalah tindaklanjut dari dalam rapat yang digelar pada Sabtu lalu, dihadapan pihak Balai Sungai, kontraktor pelaksana mega proyek Waduk, Sekretaris Kecamatan Kalawat, dan Kumtua Desa Kawangkoan, dan kurang lebih seratus orang, Asisten Satu Pemprov Sulut, Drs Edison Humiang mengatakan, mengingat waktu tidak memungkinkan lagi, maka pertemuan pembahasan Relokasi Waduk Kawangkoan akan dilanjutkan pada hari Rabu tanggal 1 Agustus 2018.
“Kumtua Kawangkoan dan pihak Kecamatan Kalawat sebaiknya berkordinasi, hadirkan para tokoh masyarakat adat seluruh Kecamatan Kalawat, untuk rapat lanjutan pada hari Rabu nanti,” tutup Humiang di amini Kadis Kebudayaan Sulut.

Inilah para tokoh dan perakilan ormas adat Sulawesi Utara yang datang pada hari Rabu 1 Agustus 2018 di Kantor Balai Sungai PPK Waduk Kawangkoan-Kuwil:

1. Ormas Adat Tonsea Mapatu — Stenly Lengkong
2. Manguni Esa — Jimmy C Lontoh
3. Denwa — Tevri Ngantung
4. Makatana Minahasa — Ricoh Sumilat
5. PABN Waraney — Brian Ticoalu
6. Laskar Mabguni Indonesia (LMI) — Wewene M A Cicilia Tambani
7. Ormas Kristen Laskar Benteng Indonesia (OKLBI) — Allan Berty L
8. LSM ADAT WPITTL — Jefran de’Yong
9. Pinaesaan Citawaya Esa — Arlen
10. Manguni Wewene Malesung — Wulan Manguni
11. MAHASATU — Yulius Luntungan
12. Perwakilan Keluarga Besar Desa Kuwil — Noch Sambouw SH.MH
13. Keluarga Dotu Wangania — Jan Wurangian
14. Pemerhati Adat-Budaya Minaesa — Stevy Kaylas
15. Garda Manguni Passo — Berty Rasubala
16.Sukut Corruption Watch (SCW) — Stenny Palanrung
17. Masyarakat Adat Desa Kuwil — Rolly Wurangian
18. Santioago — Elvis Buntuang

Selain itu ada sekitar seratus lebih relawan yang tergabung dalam aksi massa tersebut.
Massa disambut staf Balai Sungai PPK Waduk Kawangkoan-Kuwil, Donny Dumais dan beberapa karyawan. Namun hampir dua jam menunggu, tidak ada satu orangpun pemerintah terkait yang hadir.
Menurut salah satu anggota Intel yang menghubungi Kumtua Kawangkoan Paulus Kodong via ponselnya (0813400459XX) mengaku pertemuan sudah di laksanakan kemarin Selasa 31 Juli, di kantor Gubernur, dan semuah pihak sudah sepakat. Dalam waktu dekat akan di laksanakan pemindahan waruga,” ujar Kodong.
Terpisah, Camat Kalawat Herman Mengko juga saat di hubungi mengatakan kalau dirinya sedang ikut rapat di kantor DPRD Minut.
Sekira pukul 13.00 wita, massa mulai tidak sabar. Pasalnya, pihak pemerintah tidak ada yang hadir.
Para Ketua Ormas dan Perwakilannya mengecam sikap pemerintah dalam menangani masalah relokasi Waruga Kinaangkoan dan Pinandeian.
“Hari Sabtu lalu pemerintah bilang, akan lakukan relokasi sesuai apa yang diminta oleh masyarakat adat, pemerintah hanya memfasilitasi, biar masyarakat dan ormas adat yang lakukan relokasi, agar tidak terjadi kekeliruan lagi. Walau masih ada yang belum puas, namun mengingat masih ada pertemuan pada hari ini, para tokoh memilih mengalah. Kenapa saat masyarakat mulai percaya, kok justeru pemerintah yang ingkar janji,” tukas Jefran de’Yong dari LSM WPITL.
Janji Pemprov Sulut akan gelar rapat pada hari ini Rabu (1/8) tapi tidak dilakukan, membuat massa kian marah, apalagi dari informasi beberapa tokoh adat yang memberi diri merenofasi Waruga, pada Selasa 31 Juli kemarin, Dinas Kebudayaan Provinsi Sulut datang berkunjung dengan beberapa orang tamu dari Dirjen. “Iya, kami mengambil foto dan rekamannya kemarin,” jelas mereka.
Menurut Ketua Umum LSM Adat MAPATU, Stenly Lengkong, pemerintah harusnya menjadi suri teladan rakyat, terutama dslsm hal komitmen.
“Kami sangat mendukung setiap program kerja pemerintah, tapi jangan bohongi dan jangan rusak kearifan lokal. Jangan rusak situs budaya peninggalan para leluhur yang bernilai tinggi,” seru Lengkong yang dikenal sudah berpengalaman dalam melakukan relokasi Waruga.
Ia mengingatkan yang mana pemerintah sudah ada kesalahan dalam pemindahan Waruga-waruga itu. “Kami pikir, setelah kesalahan pertama memindahkan waruga pakai excsvator sehingga beberapa diantaranya hancur, pemerintah mau sadar diri dan tak mengulangi perbuatannya, eh tak tahu malah membalas keikhlasan masyarakat adat dengan pengingkaran seperti ini. Ingat, disini sudah ada pengrusakan bertentangan dengan Undang-undang Perlindungan Cagar Budaya.(7o)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*