JALAN DARURAT TOL MANADO-BITUNG DI TUMALUNGTUNG CIPTAKAN MACET BERKEPANJANGAN

Spread the love
  • 6
    Shares

Masyarakat Pertanyakan Tupoksi Pemkab dan Dekab Minut Terkait Keresahan Pengguna Jalan

MINUT, IdentitasPrime – Keseriusan pemerintah meningkatkan pembangunan infrastruktur seperti proyek pembangunan jalan tol Manado-Bitung yang mencakup sekitar 80% wilayah Kabupaten Minahasa Utara patut mendapat apresiasi.

Hanya saja keberadaan Mega-proyek ternyata memiliki sudut bagai dua sisi mata uang, seperti sebut saja biaya pembebasan lahan ada yang setuju dan ada yang tidak setuju tapi karena memakai embel-embel kepentingan rakyat dan kepentingan umum serta gertakan akan menitip uang ke Pengadilan, otomatis masyarakat awam yang takut berurusan dengan hukum terpaksa menyerahkan hak mereka di ganti rugi sesuai harga pemerintah.

Dalam kemelut diatas, ternyata mega-proyek berkedok kepentingan rakyat itu bukan hanya berdampak pada masyarakat Minut saja, namun berimbas pula pada seluruh masyarakat pengguna jalan yang melintasi proyek jalan tol tersebut.
Seperti kita ketahui sebelumnya, saat akan membangun jembatan tiap perusahaan pelaksana telah membuat jalan darurat untuk lintasan kendaraan sebelum jembatan itu selesai. Hal ini akan menyita waktu berbulan bulan sampai jembatan rampung.

Dan disinilah masalah yang terjadi dalam prosesi pembangunan proyek jalan tol di wilayah Desa Tumaluntung. Memang pihak pelaksana sudah membuat jalan darurat untuk dilalui sementara oleh para pengguna jalan arah Manado – Bitung.

Sangat disesalkan keberadaan jalan darurat ini terkesan kurang perawatan sehingga boleh masyarakat sebut “Kalu panas ba abu, kalu ujang ba pece (dalam Bahasa Indonesia artinya di musim kemarau debu beterbangan dimana mana, sedangkan kalau musim hujan lubang-lubang didalam sepanjang ratusan meter itu menjelma menjadi ubangan lumpur bagaikan disawah red-).

 Sangat disayangkan, mata rantai keresahan masyarakat ini seolah tidak diperhatikan kendati sudah sangat meresahkan para pengguna jalan maupun masyarakat sekitar.
Tidak sampai di situ saja, para pengguna jalan harus rela antri berjam-jam menunggu kendaraan lain yang merayap saat melintasi jalan darurat di area itu.

Terpantau volume kendaraan menumpuk dua arah dari ujung Polres Minut (wilayah Desa Tumaluntung) sedangkan dari arah seberang antrian memanjang dari ujung wilayah Desa Kaasar sampai area proyek pembangunan jalan tol.

“Sangat patut disayangkan, kalau jaman dulu saya ke Manado dengan mobil tua, hanya dalam 45 menit saja saya sudah tiba di Paaldua. Sekarang malah terbalik. Sudah pakai Kijang Innova, saya malah tiba di Manado bisa mencapai dua (2) jam bahkan lebih. Ini semua gara-gara kwmacetan di jalan tol itu,” keluh Bernard Woongan sopir taxi geelap Manado-Bitung (Pelabuhan).

Dilain pihak, masyarakat justeru mempertanyakan sikap Pemkab dan Dekab Minut yang terkesan cuek atas masalah keresahan masyarakat pengguna jalan. “Dimana Pemkab dan Dekab Minut, bagimana mo bagus tu jalan darurat sementara pemkab dan Dekab hanya melongo seakan menonton penderitaan pengguna jalan. Harusnya Pemkab dan Dekab, turun lapangan lakukan investigasi, dan jika benar jalan telah menciptakan ketidak nyamanan. Jangan tunggu bola, jangan bertindak kalau nanti sudah ada korban nyawa, baru mo saling tuding dengan pihak terkait. Ayo dong Pemkab dan Dekab, bertindaklah,” ajak Kristianto Juma warga Desa Watudambo. Sampai berita ini terbit, pihak perusahaan pelksana dan PPK/Satker BPJN XV dan Pemkab/Dekab Minut tak ada upaya dan belum dapat di konfirmasi. (RED)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*