Kapolsek wanea Akp Barto diduga diduga main mata dengan Deymer Malonda, Dibayar berapa ?

Spread the love

Manado, Identitasprime. Com – Rumah peninggalan mantan pejabat Sulawesi Utara almarhum Ir Henny Kondoy mendadak gaduh pada Rabu (5/5/2021) siang. Bangunan mewah di Kelurahan Bumi Nyiur Lingkungan II, Kecamatan Wanea, Kota Manado tersebut tiba-tiba dihuni orang tak dikenal, padahal pintu pagar dan rumah dalam kondisi digembok. Rumah itu dikunci kepolisian sebagai tindakan mengamankan situasi perseteruan ahli waris Henny Kondoy yakni Steven Kondoy  dan Heni syalomita.

Pengakuan suami-istri yang menghuni rumah tersebut, pintu pagar dibuka oleh Polsek Wanea dan pengacara Salomitha, Deymer Malonda.

“Saya hanya dibayar oleh pengacara Deymer untuk menjaga rumah ini. Saya tinggal di rumah ini sejak hari Jumat lalu, dan police line katanya dibuka oleh polisi,” ujar Stevi Lalamentik yang belakangan mengaku orang suruhan Deymer Malonda ke awak media.

Kontan tim pengacara Stephen Kondoy marah dan menyuruh pasutri itu meninggalkan rumah mendiang Henny.

“Sebagai ahli waris, saya merasa keberatan akan tindakan dari pengacara Deymer, yang telah mengambil langkah sepihak untuk menempati rumah di mana masih dalam status quo. Saya bingung, kenapa kunci rumah bisa ada di tangan Deymer, sedangkan kuncinya di pegang oleh Polsek Wanea,” jelas Steven, Rabu (5/5/2021).

Ketua tim kuasa hukum Fahmi Awule & Partners melalui Direktur Aris Gumolung SH menegaskan, bahwa tindakan dari Deymer melanggar aturan. Ia mempertanyakan sikap Polsek Wanea.

“Kami sebagai kuasa hukum, tidak terima dengan langkah sepihak yang dilakukan oleh saudara Deymer. Karena klien kami yang lebih berhak menduduki rumah tersebut, dengan memegang legal standing yang kuat serta alas hak dan sertifikat. Dan kami peringatkan, ketika pihak dari Deymer melakukan hal yang sama, otomatis kami akan mengambil langkah hukum,” tegas Aris.

Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui telepon, Kapolsek Wanea AKP Bartholomeus Dambe mengatakan bahwa pihaknya membuka police line tersebut atas permintaan dari kedua belah pihak.

“Itu permohonan dari kedua belak pihak pengacara untuk membuka police line, jadi saya buka. Selanjutnya untuk tindakan atau kegiatan di lapangan terserah ke dua belak pihak,” jelas mantan Kapolsek Tikala itu.

Pernyataan dari Kapolsek Wanea dibantah oleh Ketua Tim Firma Hukum Fahmi Awule. Menurutnya, Kapolsek mengambil keputusan sepihak, dengan menyerahkan kunci ke Deymer.

“Pekan lalu saya telpon Kapolsek, meminta agar Police Line dibuka karena klien kami memiliki alas hak, dari Notaris. Namun sangat disayangkan, ketika kami meminta untuk membuka pintu rumah kepada Kapolsek, katanya kunci rumah telah diberikan kepada Kasat Reskrim Polresta Manado. Anehnya, kenapa kunci rumah tersebut sudah ada ke pihak Deymer. Untuk pernyataan Kapolsek, yang mengatakan bahwa mereka membuka untuk kepentingan kedua belah pihak, itu tidak benar,” tegas Fahmi Awule.

Menurut adik kandung dari almarhumah Henny Kondoy, yang memegang sertifikat asli dan akte notaris yakni Steven Kondoy bahwa SS anak asuh Henny Kondoy telah sepihak menguasai rumah tesebut, dan diduga telah memalsukan data bekerjasama dengan salah satu oknum pengacara Deymer.

Mirisnya lagi, kematian pemilik rumah Henny Kondoy sampai saat ini masih misterius. Keluarga tidak bisa melihat jenazah kakaknya sendiri pada saat akan dikuburkan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*