KEJAHATAN SEKSUAL BERGEROMBOL “Geng-RAPE” TERHADAP ANAK TERJADI DI BLITAR

Spread the love
  • 1
    Share

Untuk Muntajab (Tsk) cs, KPA Minta Dikenai Hukuman Pidana Seumur Hidup

NASIONAL, IdentitasPrime – Dari hasil investigasi cepat Komnas Anak serta penyelidikan Polisi, kembali terungkap tentang korban mengalami kejahatan seksual lebih dari dua lelaki dalam satu waktu bersamaan.
Inilah nasib tragis yang dialami seorang anak kelas Lima SD di Blitar, Jawa Timur. Ia menjadi korban kejahatan seksual brutal bergerombol “gengRAPE” selama lima hari yang dilakukan olehbsedikitnya delapan orang pemuda di Blitar, Jawa Timur.

Aksi brutal dan biadab tak berperi kemanusiaan ini baru teriungkap dari korban yang baru berusia 11 tahun, ketika dilaporkan anak hilang oleh keluarganya kepada pamong desa.
Kemudiaan oleh pamong desa diteruskan melapor kepafa Polisi.

“Dari laporan itu, kemudian kami lakukan penyelidikan dan berhasil menemukan korban di rumah salah seorang pelaku Mustajab,” jelas Ipda Samsul Anwar Kasubag Humas Polresta Blitar.

Dengan bergerak cepatnya Polisi merespon laporan masyarakat, dua orang dari delapan pelaku telah ditangkap dan diamankan yakni MUSTAJAB (23) warga Kecamatan Srengat dan SUBAKTI (30) warga Kecamatan Pongok.
“Sedangkan enam pelaku lainnya diantara PAIDI, SOLIKUN, DONI, JARNI (pemilik rumah) dan SADIKIN menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO),” beber Ipda Samsul Anwar.

Dibawa pengaruh minuman keras dan tayangan pornografi, lelaki MUSTAJAB dan kawan-kawannya lainnya mengaku mengenal korban sejak tahun 2016. Selain dengan Sadikin, korban kerap juga diperkosa oleh beberapa pemuda bahkan SUBAKTI mengaku sudah melakukan hubungan badan paksa dengan korban sebanyak 10 kali.

Mengingat Kejahatan Seksual brutal bergerombol “gengRAPE” masuk dalam kategori “extraordinary crimes” dan penanganannya juga harus luar biasa dari “leg specialis”, dengan demikian, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) sebagai lembaga independen yang diberikan tugas dan fungsi secara nasional memberikan pembelaan dan perlindungan Anak di Indonesia mendorong dan.mendesak Penyidik Polri (Polresta Blitar) untuk tidak ragu-ragu menjerat pelaku dengan menggunakan pasal-pasal hukum yang berat.
“Ada UURI Nomor 17 Tahun 2016 junto Ketentuan pasal 81 dan 82 UU RI Nomor 35Tahun 2004 tentang perubahan dari UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, sehingga Jaksa Penuntut Umum (JPU) dapat menuntut para predator kejahatan seksual terhadap anak dengan tuntutan 20 tahun bahkan hukuman seumur Hidup,” ujar Arist Merdeka Sirait Ketua Dewan Komisioner Komnas Perlindungan Anak via nomor WA-nya saat berada di Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Jumat (07/09/18) kemarin.

Lanjut Sirait, atas meningkatnya kejahatan seksual brutal terhadap anak ini, sudah saatnyalah tiba, pemerintah Blitar bersama pemangku kepentingan perindungan anak di Blitar segera membangun dan menggerakkan partisipasi masyarakat guna menjaga serta melindungi anak dimasing-masing kampung dan atau desa yang integrasikan dengan program pemberdayaan nasional desa khususnya bagi pemberdayaan masyarakat rentan seperi anak , perempuan dan lansia yang diatur dala ketentuan UU Desa.

“Dengan diberlakunnya UU RI Nomor 17 Tahun 2016, maka kami meminta Penyidik Polri di Polresta agar menerapkan tuntutan Primernya dalam perkara ini dengan ketentuan UU RI Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan PERPU No. 01 Tahun 2016 sehigga Jaksa dapat menjerat pelaku dengan tu tutan yang maksimal berkeadilan bagi korban,” pintanya.

Lebih jauh Arist menjelaskan, atas peristiwa kejahatan seksua brutal bergerombol ini Komnas Perlindugan Anak mengajak pemerintah, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) dan pemangku kepentingan perlindungan anak di Jawa Timur untuk mewaspadai dan PERANG terhadap fenomena kejahatan seksual brutal yang menggejala dengan cara bergerombol “gengRAPE” di Blitar.
“Tidak ada kata DAMAI dan toleran bagi predator Kejahatan Seksual Anak. Komnas Perlindungan Anak juga meminta Hakim dalam memutus perkara-perkara kejahatan seksual BERKEADILAN Bagi Korban dan sudah saatnya tiba pula Hakim nenetapkan hak Restributive (ganti rugi pemuihan) dalam tiap-tiap putusannya bagi korban,” timpal Arist.

Ia juga menambahkan, untuk kerja keras penyidik Polri Polresta Blitar menangani perkara kejahatan terhafap anak, Komnas Perlidungan Anak memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas kerja cepat dan responsnya terhadap laporan masyarakat terhadap kekerasan yang terjadi pada anak.

“Sedangkan untuk advokasi hukum dan pendampingan psikologis bagi korban, LPA yang ada di Jawa Timur bersama Tim GeRak Cepat Komnas Anak segera membentuk tim pendampingan korban,” pungkas Arist Merdwka Sirait. (RED

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*