Kepsek SMP Nasional Kahuku Diduga Pakai Tenaga Siswa, Bekerja Saat Jam Pelajaran

Spread the love

MINUT, IdentitasPrime – Dunia Pendidikan di Minut kembali tercoreng oleh perilaku oknum kepala sekolah (Kepsek), yang ditengarai adalah Kepsek SMP Nasional Kahuku Desa Kahuku Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara (Minut).

Kepsek SMP Nasional Kahuku, Lansus Ruitang diduga telah mengeksploitasi siswa di sekolah yang dipimpinnya dengan menyuruh mengerjakan berbagai pekerjaan pada jam sekolah.
Hal ini terungkap melalui akun medsos seorang warga Desa Kahuku Maria Taramen.
Menurut Taramen melalui pengakuan seorang murid di sekolah tersebut. Para murid kerap diperintahkan oleh Ruitang untuk mengerjakan berbagai pekerjaan yang tidak layak dilakukan oleh anak-anak seusia mereka.
Parahnya lagi pekerjaan-pekerjaan tersebut diperintahkan pada jam kegiatan belajar mengajar di sekolah, contohnya, memikul balok dari kebun, memberi makan ternak, menarik perahu dari pantai ke-laut, mengangkat pasir, mengangkat perahu dari pantai ke darat (dibayar orang, yang disuruh mengangkat para murid), membersihkan kotoran di celana (merawat orang sakit), memindahkan barang-barang pribadi dan membersihkan kubur keluarganya.

Mirisnya, semua itu dilakukan pada jam sekolah. Yang terakhir yaitu membersihkan kubur, terjadi Sabtu (21/10) jam 11.30 .
Akibat membersihkan kubur ini seorang anak yang turut serta, usai mengerjakan hal yang diperintahkan kepsek tersebut pulang ke rumah pada jam 18.00, kemudian muntah-muntah dengan tubuh lemas akibat diserang penyakit asam lambung(maag) anak tersebut sebelum pergi membersihkan kubur belum sempat makan.
Atas hal yang dituduhkan tersebut, oknum Kepsek SMP Nasional yang dikelola Yayasan salah satu denominasi agama Lansus Riutang saat dikonfirmasi oleh SKH Aspirasi Rakyat melalui telfon ini tidak membantah, bahwa anak-anak tersebut diperintahkan seperti itu.
Menurut Ruitang, hal ini harus dipahami, tidak ada sekolah yang gratis saat ini, orang tua murid tidak pernah berkontribusi terhadap sekolah. Oleh karenanya cara ini digunakan sebagai kontribusi anak-anak terhadap sekolah. Namun dirinya membantah kalau itu dilakukan pada jam sekolah. “Pekerjaan-pekerjaan itu saya perintahkan pada jam istirahat, tidak menggunakan jam pelajaran. Yang lainnya juga dikerjakan saat jam sekolah telah usai. “Untuk pekerjaan membersihkan kotoran (merawat orang tua sakit) itu dilakukan oleh murid-murid yang masih ada ikatan keluarga dengan orang tua yang dirawat, demikian juga dengan membersihkan kubur, mereka adalah cucu dari almarhum ayah kami, sebab kami merupakan keluarga besar di desa ini,” terang Ruitang sambal menyebut nama sebuah marga. Lebih jauh dikatakan Ruitang, saat menarik perahu dari pantai ke darat dan sebaliknya itu adalah bagian dari pembelajaran sosial yang dilakukan oleh lembaga Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). “Itu adalah program kelembagaan siswa dan mereka yang membuat programnya,” tukas Ruitang.
Terpisah, Plt. Kadis Pendidikan Nasional Minut Sofitje Wolajan SE MM saat dihubungi Aspiraasi Rakyat mengaku kaget dan tidak membenarkan perlakuan oknum Kepsek tersebut. “Kalau itu dilakukan pada jam sekolah sama sekali tidak dibenarkan, jam istirahat merupakan hak dari para siswa berhenti dari aktifitas belajar dan mengajar. Apapun alasannya tidak dibenarkan kepsek melakukan tindakan tersebut. Jika itu diluar jam sekolah, apalagi didalam kerukunan keluarga mereka itu menjadi hak mereka,” kecam Kadis Sofitje. Dirinyapun mengaku akan menurunkan tim ke sekolah tersebut untuk mengecek kebenaran laporan itu. Dan bila benar terdapat pelanggaran seperti itu Dinas Pendidikan Minut selaku institusi terkait tentunya akan mengambil tindakan. Terpisah Sekretaris Diknas Olfie Kalengkongan S.Pd MMPd saat dihubungi mengatakan telah memanggil oknum kepsek tersebut untuk menghadap di Diknas Minut Senin (23/10) (hari ini-red) untuk mengklarifikasi laporan kejadian ini.(Red)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*