Maringka: “Nama SULUT Nyiur Melambai Terancam Jadi Nyiur Menangis”

Spread the love
  • 28
    Shares

SAVE POHON KELAPA, SAVE PETANI KELAPA, SAVE MINYAK KELAPA

MINUT, IdentitasPrime – Miris… kebesaran nama “Sulut Negeri Nyiur Melambai”, terancam hilang dan bakal tinggal kenangan.
Pasalnya, kalau zaman dulu orang Bohusami (Bolmong, Hulondalo, Sangihe, Minahasa) dikenal kaya-raya oleh hasil bumi rempah-rempah (termasuk kelapa dan cengkih), di zaman modern ini, walau ketersediaan semua itu masih ada di Bohusami (singkatan suku-suku besar di Provinsi Sulut dan Provinsi Gorontalo), namun permainan politik dagang, telah memporak-porandakan harga Cengkihb dan Kopra di BUMI NYIUR MELAMBAI ini.

“Kalau waktu-waktu lalu harga Kelapa/Kopra sangat sensitif oleh pergeseran Dollar, sekarang sudah tidak demikian. Itu terjadi karena pembeli Kopra di Sulut kian hari, kian berkurang sehingga monopoli permainan harga dilakukan sesuka hati para mafia Kopra,” tutur Rolland Maringka salah satu pemerhati Ekonomi asal Maumbi Kecamatan Kalawat, Rabu (13/6).

Pengendara melintas di dekat tumpukan kelapa untuk dijadikan kopra di Desa Sibedi, Marawola, Sigi, Sulawesi Tengah, Minggu (16/3). Akibat turunnya produksi kelapa, harga kopra di tingkat petani naik dari Rp. 3.500 menjadi Rp. 8.500 per kilogram. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/ss/Spt/14

Kebesaran nama SULUT NYIUR MELAMBAI, lanjut Maringka, bakal tinggal kenangan, tak dapat dipungkiri jika kita menilik sejarah Kelapa/Kopra sekarang dan beberapa tahun silam. Salah satu penyebab anjloknya nasib Kela/Kopra adalah tahun 1995 keatas, pemerintah pusat diperalat dengan suplay bibit Kelapa Sansibar dan minyak kelapa sawit mulai diperkenalkan dan mendominasi perdagangan Indonesia.

“Semua kembali kepada kita sendiri yaitu faktor tidak mencintai produk lokal.Tahun 1973 di Maumbi sudah ada pabrik minyak kelapa. Di Airmadidi, Kairagi, Paaldua, dan wilayah kabupaten/kota lain, perusahaan minyak kelapa beroperasi dengan baik sehingga masyarakat petani Kelapa/Kopra dapat bertengger pada posisi makmur,” kenangnya.

Sebelum masa kepemimpinan Presiden Soekarno, Kota Jakarta pernah disebut dengan nama SUNDA KELAPA. Namun karena sentuhan modernisasi, tanaman kelapa di Pulau Jawa perlahan tapi pasti, mulai habis sampai tak ada lagi nama Sunda Kelapa itu.

“Apakah kita mau hal itu terjadi di Sulut tercinta ini, kita tak bisa berdiam diri dsn menjadi penonton terhadap abrasi Kelapa/Kopra ini, mari bergerak dan cari solusi,” imbau Rolland.

Roland Maringka yang juga merupakan motor pengerak LSM Adat Brigade Manguni Indonesia (BMI) mengajak masyarakat Sulut kembali mengangkat kebesaran Kelapa/Kopra di Sulut.

“Hentikan kebiasaan membeli Minyak Kelapa import. Jangan perkaya daerah lain dengan suplay minyak kelapa sawit, padahal kualitas minyak kelapa dalam. Mari kita kembali mencintai minyak kelapa dalam, dan kita lihat mana lebih berkualitas, apakah minyak kelapa sawit, minyak kelapa Sansibar, atau minyak Kelapa Dalam (lokal),” tukas Rolland.

Ia juga mengajak masyarakat Sulut untuk tidak terhipnotis dan terbuai oleh permainan bisnis Kelapa/Kopra membeli murah, dan menjual mahal ke pasaran dunia. “Harga minyak kelapa di pasaran dunia, cukup tinggi. Namun harga pembelian di daerah sangat rendah.

Lanjut dikatakan Maringka, jika masyarakat dan pemerintah Sulut/Minut tidak mengkritisi nasib pohon dan buah Kelapa Lokal secepatnya, maka tak sampai 25 tahun kedepan, nasib kelapa akan punah dan tinggal kenangan seperti SUNDA KELAPA.

Mari kita berikir bersama sambil terus meremajakan pohon Kelapa. Hentikan kebiasaan membeli minyak kelapa luar dan perketat perdagangan batang (pohon) Kelapa. Kelapa produktif umur 40-50 tahun jangan ditebang. Hentikan budidaya kelapa Hybrida, dan kebiasaan membeli minyak kelapa Sawit. kembali intens dengan budidaya kelapa lokal,” tandas Rolland Maringka sembaricmenambahkan yang mana semua belum terlambat.

“Para investor lokal, mari buka usaha pabrik minyak kelapa lokal. Galang kembali penyedia alat Cukuran Kelapa. Save Pohon Kelapa dan Minyak Kelapa di Sulut, kita dongkrak nasib Petani Kelapa. (7o)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*