Persaingan Tenaga Kerja di Masa Depan

Spread the love

Sadarkah kita bahwa waktu berjalan sangat cepat? Hari berganti hari, tahun berganti tahun, tidak terasa kita sudah hampir berada di tengah tahun 2021. Apakah Anda pernah mendengar tentang MEA 2025? MEA adalah singkatan dari program Masyarakat Ekonomi ASEAN. Program kerja sama ASEAN ini telah berlangsung sejak tahun 2015 lalu. MEA bertujuan untuk menjadikan ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal serta berdaya saing tinggi.

Dalam menghadapi MEA yang sudah berada di depan mata ini, kita dituntut untuk mengembangkan diri dan memperkaya kemampuan kita. Mengapa? Karena dengan adanya MEA, seluruh negara ASEAN telah setuju untuk tidak membatasi peredaran lima hal, yaitu arus barang, arus jasa, arus modal, arus investasi, dan arus tenaga kerja terlatih. Kelima hal ini berkaitan antara satu dengan lainnya.

Persaingan tenaga kerja yang akan terjadi di masa depan tidak dapat dihindari jika kita tidak menetapkan standar yang tinggi mulai saat ini. World Economic Forum memprediksi bahwa 75 juta pekerjaan akan hilang dan digantikan oleh teknologi pada 2022 mendatang. Hal ini bahkan sudah bisa dilihat pada profesi penjaga gerbang tol yang sudah digantikan oleh mesin, pekerjaan teller bank yang juga mulai terancam keberadaannya.

Untuk menghadapi era globalisasi yang sangat cepat dan MEA, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya saing kuat, berkarakter, bertanggung jawab, pekerja keras, kreatif, dan inovatif sehingga mampu menyetarakan dirinya dengan tenaga kerja luar negeri. Generasi muda membutuhkan kemampuan dan skill khusus yang mumpuni agar dapat bertahan dengan persaingan global di kemudian hari. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah mengembangkan kreativitas, pola pikir yang terbuka dan mau menerima kritik, berani untuk melakukan kolaborasi. Hal-hal tersebut diperlukan karena nantinya para generasi muda juga tidak hanya akan bekerja sendiri, namun bekerja dalam satu tim.

Sumber daya manusia adalah asset terpenting yang dimiliki oleh suatu negara. Tidak ada gunanya memiliki tenaga kerja yang banyak namun tidak memiliki kualitas yang mumpuni. SDM yang berkualitas hanya dapat diperoleh dari perencanaan yang matang, pelatihan, dan pembinaan yang terarah. Setelah itu, SDM perlu dikelola dengan baik dan profesional agar terjadi kesimbangan antara kebutuhan dan tuntutan.

Coba kita pikirkan kembali. Apabila di masa yang akan datang tenaga kerja dari luar negeri datang dan bekerja serta mengelola sumber daya alam di Indonesia. Di sisi lain kita tidak mampu bersaing melawan mereka karena kita kurang berpengalaman serta tidak memiliki skill yang mumpuni, apa yang akan terjadi? Apakah kita hanya akan menjadi penonton saat sumber daya alam kita dieksploitasi oleh investor asing? Apakah kita akan membiarkan produk-produk lokal hilang ditelan waktu dan digantikan oleh produk-produk luar negeri yang berkualitas tinggi? Tentu hal itu akan menjadi mimpi buruk bagi bangsa kita tercinta.

Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita sudah cukup menimba ilmu dan mengembangkan kemampuan diri kita? Marilah berkaca pada diri kita masing-masing. Masih belum terlambat untuk mengembangkan diri saat ini.

(Publisher by Sastra Jerman 2020 unsrat)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*