Ramoy Markus Luntungan (RML) di Klaim Sebagai Cabup Minut 2020 Terkuat

Spread the love

Om Piet: “Mau dengan parpol, atau independen, RML tetap sulit disaingi, sebab RML adalah birokrat sejati tanpa cacat atau kartu mati”

MINUT, IdentitasPrime – Sosok RML (Ramoy Markus Luntungan) adalah tokoh birokrat berdarah Tonsea (Kabupaten Minahasa Utara) yang sempat membesarkan nama Kabupaten Minahasa Selatan karena dirinya dipercaya rakyat menjadi Bupati.
Sepeninggal RML, Kabupaten Minsel menjadi kabupaten besar yang tak kalah dibanding kabupaten/kota lain se Indonesia.
Akhir-akhir ini, nama RML kembali merebak di Kabupaten Minahasa Utara (Minut), yang mana ia bakal maju ke pentas Pemilihan Bupati (Pilbup) tahun 2020 nanti.
Menyeruaknya nama RML untuk Pemilu 2020, langsung menghangat. Petrus Yohanes Luntungan, mantan politusi senior Minut menilai menilai, sosok RML sangat mumpuni jika maju sebagai Calon Bupati Minut.
“Minut adalah daerah ysng memiliki potensi dan kekayaan alam lebih banyak dibandingkan dengan kabupaten kota se-Sulut. Tapi saya lihat Minut justeru so jadi kabupaten yang paling terkebelakang. So 15 tahun Minut berdiri tapi tidak ada kemajuan apa-apa. Kondisi ini tentu sangat memalukan warga Minut yang nota bene penduduk aslinya etnis Tonsea. Kondisi ini juga tentu etnis Tonsea yg bertanggung jawab,” tukas tokoh adat yang akrab disapa Om Piet itu, Seni (10/6) via komentarnya di group whats-app.
Sampai era abad ke-19, lanjut Om Piet, orang Tonsea sangat dihormati dan disegani karena memiliki kesejahteraan lebih kerena dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang disebut TUNDUAN WADIAN TETERUSAN yang taat dengan Nilai-nilai moral yang luhur dan mulia.
“Adat Tonsea 100% mengabdi untuk rakyat. Pemimpin di abad-20 tidak lagi mentaati dan melaksanakan nilai-nilai moral luhur budaya adat Tonsea.Apakah orang Tonsea sudah apatis dengan proses politik atau sudah menjadi miskin dan fragmatis serta tidak bertanggung jawab masa depan anak-cucu sehingga kedaulatan dan kehormatan diri sebagai etnis Tonsea dan warga Minut dalam proses politik digadaikan dengan harga yang sangat menyedihkan alias tidak bernilai,” umbarnya.

Menurut Om Piet, kedaulatan dan kehormatan untuk memilih top leader/bupati/Tunduan WADIAN TETERUSAN hanya digadaikan atau dijual dengan beras 10 kg dan uang 100 ribu Rupiah.

“Fakta menujukan semua warga Minut sudah terdidik dan terpelajar tapi masih dibodohi dan ditipu oleh politisi-politisi pada saat pemilu dan pilkada. Hal ini selama kurun waktu 15 tahun sudah membudaya dalam setiap proses politik untuk memilih top leader baik dari Hukum Tua sampai Bupati dan Gubernur,” urainya.
Lebih jauh dikatakan Om Piet, dengan berkembangnya budaya money politik yang ada, otomatis oknum yang tidak memiliki integritas dan kompetensi serta wawasan, justeru dapat menjadi top leader, hanya karena memiliki modal besar untuk proses politik, dan menjadikan jabatan sebagai tunggangan politik untuk kepentingan bisnis, bukan pengabdian.

“Ini menjadi PR buat kita bersama untuk mencarikan solusi yang terbaik untuk menghapus budaya politik yang sangat buruk ini. RML adalah sosok yang sangat pantas dan layak untuk menjadi top leader atau TUNDUAN WADIAN TETERUSAN. Mau dengan parpol, atau independen, RML tetap sulit disaingi.
Sosok RML adalah birokrat sejati tanpa cacat atau kartu mati. Dalam kehidupan keluarga serta karier birokrat maupun karier politik, RML memiliki integritas, kompetensi dan wawasan luas baik regional maupun nssional, disegala bidang.
Memang kalau maju Pemilu di Minut, jalur Independen merupakan payung politik paling repot. Makanya yang mau bergabung dalam team Independen RML para relawan harus bekerja keras dsn rela berkorban baik waktu maupun materi, melawan para calon yang berstrategi politik buruk seperti intimidasi penguasa dan money politic. Semua harus disiapkan dari sekarang,” tukas Luntungan.
Ditanya, apakah sikap yang akan diambil Om Piet sebagai salah satu bakal Calon Bupati Minut dari.jalur Independent, jika Ramoy Markus Luntungan (RML) maju dsricjalur yang sama, Om Piet sontak menjawab, ia akan mundur. “Saya mundur saja,” tandas Luntungan. (Meikel)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*