RATUSAN MASYARAKAT BUNAKEN GELAR UNRAS TOLAK PEMBANGUNAN FLOATING JETTY

Spread the love
  • 4
    Shares

PENGGUNAAN FLOATING UNTUK TAMBATAN PERAHU DAN NAIK-TURUN PENUMPANG KE PULAU BUNAKEN/TAMAN NASIONAL BUNAKEN, DIJAMIN TAKKAN MERUSAK EKOSISTEM

NASIONAL, IdentitasPrime – Taman Nasional Bunaken sebagai Kawasan Pelestarian Alam, adalah ujung tombak wisata di Sulawesi Utara berkelas internasional. Tak mengherankan jika gugus Bunaken ini menjadi target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diserap dari berbagai sektor seperti ekonomi, pariwisata, bahkan perdagangan.
Tercatat, jumlah pengunjung Taman Nasional Bunaken medio April 2016 – April 2017, sedikitnya sudah berjumlah 25.722 orang.
Untuk periode akhir Mei 2017 – April 2018 berjumlah 49.002 orang, atau mengalami peningkatan mencapai 100% dari jumlah pengunjung yang hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Kamis (21/06), suasana di Pulau Bunaken sempat memanas dengan adanya ratusan warga yang menggelar unjuk rasa (unras) damai, menolak alih fungsi lingkungan yang dikhawstirkan dapat merusak ekisistem dan terumbu karang di tanah dan laut kecintaan mereka, Gugusan Manado Tua, Bunaken dan Siladen.

Massa yang menghampar ratusan kartun dan kain bertulisan penolakan, menggelar orasi menolak keras upaya-upaya yang disinyalir hanya demi kepentingan kelompok tertentu, namun berbuntut buruk bagi nasib Gugusan Bunaken Raya ini.

Demi mencegah lonjakan pengunjung yang bisa membludak dari tahun ke tahun, di Taman Nasional Bunaken – Pulau Bunaken, maka pemerintahpun berupaya menata ruang gerak perahu agar memberi kenyamanan bagi pengunjung, dengan penggunaan fasilitas multifungsi berupa floating jetty (tambatan perahu dan dermaga untuk naik turun para pengunjung).

Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Si menguraikan, Floating tersebut akan ditempatkan pada lokasi perairan dalam, jauh dari wilayah ekosistem terumbu karang dan area spot diving.
“Itu dilakukan agar menghindari kerusakan karang yang diakibatkan dari operasional floating, serta memberikan kenyamanan dan ruang gerak bagi wisatawan yang diving,” katanya.

Namun sampai saat ini, lanjut Prabandari, pihaknya masih menguji- coba floating itu selama 14 hari, (terhitung mulai dari 13 – 26 Juni 2018), dengan asumsi rentang waktu tersebut merupakan peak season dan low season kunjungan di Taman Nasional Bunaken.
“Dengan demikian kita dapat melakukan kajian terhadap kapasitas pendukung tambatan perahu dan kapasitas daya tampung pengunjung,” bebernya.

Adapun Floating Jetty ini merupakan Corporate Sosial Responsibility dari P.T Manado Maju Wisata, yang untuk saat ini masih sementara diuji cobakan sebagai sarana pengelolaan wisata alam di Taman Nasional Bunaken. “Pengawasan sarana pengelolaan floating dilakukan langsung oleh Balai Taman Nasional Bunaken. Dalam hal ini kita juga akan memantau ketahanan terhadap pengaruh kondisi cuaca, baik cuaca normal maupun cuaca ekstrim, selanjutnya data-data hasil pengawasan selama uji coba tersebut sebagai bahan kajian kelayakan operasional sarana floating di masa mendatang, tanpa ada dampak pengrusakan lingkungan,” tandas Farianna Prabandari.

Terpisah, Kepala SPTN Wilayah I, Arma Janti Massang mengatakan, pada waktu-waktu tertentu perahu yang mengangkut wisatawan ke kawasan Taman Nasional Bunaken mengalami kendala pada saat menurunkan penumpang karena keterbatasan ruang gerak perahu di Pantai Liang.
Demikian pula waktu yang diperlukan untuk menurunkan penumpang perahu cukup lama, karena setiap perahu antri untuk sandar di dermaga, apalagi bila terjadi kondisi cuaca yang ekstrim menimbulkan kurang nyaman bagi wisatawan.

“Sebagai Kawasan Pelestarian Alam, prinsipnya sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem dan Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, yakni berfungsi pokok sebagai sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya,” urainya.

Lanjut kata Massang, masa uji coba floating tersebut selama 14 hari, sebagaimana yang disampaikan oleh Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, ini masih kajian terhadap kapasitas daya dukung tambatan perahu dan kapasitas daya tampung pengunjung, artinya apabila kelayakan operasionalnya itu memungkinkan untuk dijalankan akan dijabarkan bagaimana kedepan sebagai inovasi baru dalam aktivitas wisata di Taman Nasional Bunaken, apabila tidak layak dan mengganggu ekosistem maka operasionalnya harus dihentikan.
“Kami berupaya bagaimana fungsi pokok yang tertuang dalam Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut dapat berjalan dengan baik,” tukas Arma Janti.

Sementara itu, Koordinator Resort Pulau Bunaken Frans Motto, memberikan keterangan bahwa banyak perahu yang ditambatkan dengan membuang jangkar pada wilayah yang dekat dengan terumbu karang, ini yang menyebabkan kerusakan ekosistem, padahal karang itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bertumbuh dan berkembang.

Belum lagi kegiatan yang dilakukan oleh Tim Patroli pemantauan aktivitas pengunjung Balai Taman Nasional Bunaken bersama dengan lintas instansi, mengalami kendala pada saat pemeriksaan tiket masuk, karena pada umumnya banyak wisatawan terutama mancanegara yang langsung menuju lokasi diving, tanpa diturunkan terlebih dahulu di dermaga dan setelah berkegiatan langsung kembali ke Manado.
“Padahal penarikan tiket masuk kawasan Taman Nasional Bunaken adalah bentuk Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang harus kami setorkan kepada Kas Negara, sebagaimana tertuang dalam pasal 6, Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementerian Kehutanan,” tukas dia.

Unras yang terkonsentrasi sekitar satu (1) jam itu berakhir dengan aman, dan para pendemo membubarkan diri dengan teratur, dikawal belasan personel polisi dari Polsek KP3 dan Polsek Bunaken dipimpin Kapolsek AKP Decky Demus.(Redaksi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*