Relokasi Kubur di Kawangkoan Kalawat Diduga Kuat Tidak Manusiawi

Spread the love
  • 16
    Shares

Pemindahan Kubur Kawangkoan Kalawat Dijanjikan Uang Rp25 juta, Namun Kenyataannya Hanya Dicairkan Rp4 juta

MINUT, IdentitasPrime – Proses pembangunan proyek jalan tol Manado-Bitung yang melintasi Kabupaten Minut, ternyata tidaklah mulus, bahkan disinyalir masih sarat dengan masalah.

Salah satu bukti yang paling krusial akhir-akhor ini adalah permasalahan relokasi alias pemindahan kubur warga ke lokasi yang baru. Keresahan warga dipicu oleh tidak sesuainya harapan keluarga karena relokasi itu dianggap tidak manusiawi.

Dari sejumlah keluhan yang jasad keluarga mereka yang dipindahkan, diperlakukan secara tidak hormat, khususnya kubur yang dipindah ke Desa Kawangkoan Kalawat Jaga II.

Relokasi dilakukan secara massal berbeda dengan yang dipindahkan ke Desa Kawangkoan Baru. Keluarga berharap Pemkab dan Dekab Minut memperhatikan masalah ini.

Sebut saja Billy Sundah warga Desa Kawangkoan Kalawat Jaga II mengatakan relokasi kuburan di tempatnya, dibuat seperti kuburan massal berbeda dengan di Kawangkoan Baru yang dibuat rapi.
“Silahkan datang sendiri dan melihat langsung kondisi tersebut. Yang saya tahu kalau dari team forensik memindahkan jenazah harus sesuai dengan struktur bentuk kerangka manusia seperti semulanya kayak dia meninggal pertama kali. Jadi berurutan dan di atur rapih,” ujarnya.

Lanjutnya, walau mereka sudah meninggal rohnya tetap hidup dan melihat. “Jadi setidaknya kita menghargai mereka dan keluarga mereka,” tutur Sundah, Senin (5/2- 2018).

Dari informasi yang dirangkum, untuk pemindahan kubur di lokasi Kawangkoan Kalawat dijanjikan uang Rp25 juta namun kenyataannya hanya dicairkan Rp4 juta, bahkan untuk ukuran peti mati banyak yang tidak layak, karna sebagian jenasah dilipat sedemikian rupa karena kondisi peti yang kecil.

“Banyak kejanggalan diantaranya pencairan dana tidak sesuai, terus lokasi pemindahan kubur kayak kuburan massal beda dengan yang di Kawangkoan Baru yang kuburnya bagus dengan pembayaran yang sesuai,” tulis salah satu netizen di Fecabook

Sementara itu menurut Eddy Hendra Sondakh seharusnya pihak pengembang tidak menabrak aturan kebiasaan adat istiadat Minahasa terlebih soal pemakaman.
“Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 sebagai dasar hukum didalamnya tertuang semua kerugian fisik baik non fisik harus diatur dengan baik sebagaimana sediakala, termasuk tata cara pemindahan, ritualnya, transportasi, pembangunan makam harus sesuai kebiasaan adat istiadat. Tapi ini sudah tidak tahu adat namanya,” semburnya.(Jo)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*