Salmon Janji Terus Upload Berita Pengrusakan “Waruga Pinandeian” ke UNESCO

Spread the love
  • 26
    Shares

Rinto: “Pengrusakan Waruga Kinaangkoan dan Pinandeian itu Penghinaan Terhadap Harga Diri Suku Minahasa”

MINUT, IdentitasPrime – Upaya relokasi Waruga Kawangkoan-Kuwil yang dikenal dengan Waruga Kinaangkoan dan Waruga Pinandeian di Desa Kawangkoan dan Desa Kuwil, Kecamatan Kalawat, yang disinyalir dilakukan secara berjemaah, oleh terduga Perusahan pelaksana proyek waduk, Dinas Pariwisata Minut dan Balai Sungai Wilayah Sulawesi Utara, telah menyulut ketersinggungan masyarakat adat Minahasa Utara bahkan Sulawesi Utara.
Pasalnya, waruga yang merupakan makam batu bukti kejayaan suku Minahasa di jaman dahulu, beberapa diantaranya dipergoki kini sudah pada rusak berat akibat dipindahkan memakai alat jenis excavator.
“Sangat miris, coba bayangkan kalau kuburan orangtua anda dipindah dengan cara serendah ini. Kuburan biasa saja tidak di ijinkan keluarga dipindah dengan excavator, kenapa justeru makam para leluhur malah diperlakukan seperti ini,” tutur Rinto Taroreh pemerhati Adat Budaya dan Tradisi Bumi Malesung (Sulawesi Utara).
Hari ini adalah hari ke-10 (sepuluh) Tonaas muda nan kharismatik Rinto Taroreh dan beberapa simpatisan adat melakukan ritual dan membenahi secara manual waruga-waruga yang hancur diduga akibat sentuhan kasar excavator.
Pihaknya melakukan itu dengam sukarela karena dalam komunikasinya dengan roh para leluhur, mereka mengaku sangat marah atas perlakuan seperti ini.
“Padahal kasiang dorang pe tulang jari so tapisah, dorang pe gigi dan anggota tubuh laeng so ta cecer, pengrusakan Waruga Kinaangkoan dan Pinandeian itu penghinaan terhadap harga diri Suku Minahasa,” ujarnya.
Dalam komunikasinya dengan roh para leluhur menjelang tahap pertama relokasi Waruga Kinaangkoan, Tonaas Rinto pernah menyampaikan bahwa, demi kemajuan Sulawesi Utara, para leluhur bersedia dipindah, asal dengan syarat harus pindah secara adat.
“Orangtua pesan, pindah jo kata asal ritual akang secara adat. Dan kalu sampe yanda iko akang, dorang akan marah dan depe akibat, sulit mo dijelaskan dengan kata-kata,” urai Rinto.
Karena syarat yang dikemukakan Rinto seakan tidak berkenan dihati para pelaksana, giliran pemindahan Waruga Kinaangkoan dilakukan, dia tidak dilibatkan lagi bersama beberapa pemangku adat seperti Waany Unsulangi, Tonaas Provost Brigade Manguni Indonesia, Alfian Posumah Kepala Departemen Khusus Lingkungan Hidup LSM WPITTL, dan beberapa tokoh lainnya.
“Saat relokasi itu, saya tidak tahu lagi soalnya saya tidak pernah dipanggil. Cukup jo Waruga Kinaangkoan yang dipindah sesuai dorang pe mau. Torang berharap, Waruga Pinandeian nanti akan direlokasi lebih baik dan lebih sempurna sesuai adat. Tapi apa yang terjadi, malah lebeh soe kasiang. Cukup jo, kami akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Bayangkan betapa sedih tong pe leluhur ada lia dorang pe Rumah Jiwa (Waruga red-) kurang ada pindah rupa puing-puing nda berharga bagini. Hati-hati kasiang, sebab leluhur pe amarah nda ada yang boleh dapa pele, kita doakan semoga nda akan terjadi hal-hal yang tak di inginkan, walau sebetulnya depe tanda-tanda so ada,” tukas Taroreh dengan mata berkaca-kaca.
Kalau Dinas Pariwisata Minut sebut pemindahan Waruga-waruga Pinandeian terpaksa harus pakai alat berat karena 20 orang saja tidak cukup, menurut Rinto, dimata orang Adat hal itu hanya alasannyang dibuat-buat.
“Siapa bilang harus 20 orang mengangkut, kalau dilakukanndengan ritual adat dan si Sembahyangkan dahulu, empat (4) orang saja sudah cukup, asalkan yang melakukan pemindahan memiliki hati dan jiwa luhur dan tulus,” pungkas Rinto.
Mau bukti, apa yang dikatakan Tonaas Rinto Taroreh, silahkan baca berita di https://identitasprime.com/dikawal-ormas-adat-mapatu-relokasi-rema-17-waruga-maklentuay-airmadidi-berlangsung-sangat-mengharukan/

Dilain pihak namun memiliki perasaan yang sama, Rio Salmon Ketua Ormas Adat Manguni Esa, mengecam keras tindakan relokasi Waruga memakai excavator. “Dimana hati nurani kalian orang beragama yang katanya rajin beribadah, sedangkan perbuatan bagaikan orang bar-bar tidak berperasaan. Apa ngoni suka ngoni pe papa deng ngoni pe mama pe kubur orang angka pindah sama deng ada angka sampah,” semburnya.

Kalau Tonaas Rinto Taroreh bergerak diam sambil membenahi Waruga Pinandeian secara manual, lain lagi Rio Salmon. Pihaknya memilih berkoar dan menyuarakan kebobrokan yang terjadi terhadap situs bersejarah milik Suku Minahasa ke dunia luar.
“Kami akan mengabari UNESCO. Mereka harus tahu kejadian ini. Selain UU Cagar Budaya, harus ada pula Perbup, Pergub bahkan Perpres sebagai barometer dan penyanggah undang-undang yang sudah ada,” serunya.
Para pelaku pengrusakan, kata Rio lagi, wajib dihukum dengan aturan ya g rertata di Undang-undang Cagar Budaya. “Sebagai manusia bermoral, kami sudsh memaafkan apa yang diperbuat, namun hukum tetap jalan. Dengan demikian itu menjadi contoh agar kedepan nanti, tak ada lagi yang berani semena-mena merusak cagar budaya yang ditinggalkan para leluhur di NKRI tercinta ini. I YAYAT U SANTI.(Marthen Sulla)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*